Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Salah Kaprah dan Kefatalan Paham Seputar Susu Kental Manis, Lahirkan Anak Stunting

📅 Jumat, 27 Jun 2025, 16:34 WIB | Oleh: Tim Penulis

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang tidak menyadari risiko ini. Dalam banyak kasus, konsumsi kental manis sebagai minuman harian anak-anak justru dipromosikan sebagai pilihan praktis dan ekonomis.

Diperparah lagi dengan iklan-iklan yang secara visual menggambarkan kental manis sebagai bagian dari sarapan sehat atau kebersamaan keluarga. Narasi semacam ini menanamkan asosiasi positif terhadap produk, yang pada akhirnya menutupi fakta nutrisi yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan makanan dan minuman.

Ketika kebiasaan ini berlangsung lama, bukan hanya masalah gizi yang akan timbul, tetapi juga potensi penyakit metabolik seperti obesitas dan diabetes di usia dini. Di tengah upaya besar pemerintah untuk menurunkan angka stunting nasional, persoalan konsumsi kental manis ini tidak bisa dianggap sepele.

Edukasi publik harus diperkuat, dan pelaksanaan regulasi perlu lebih tegas dan konsisten. Peran keluarga, khususnya ibu-ibu yang menjadi garda depan dalam pemenuhan gizi keluarga, harus diperkuat dengan informasi yang benar dan akurat.

Dalam hal ini, pertemuan antara KOPMAS dan PKK DKI Jakarta menjadi langkah strategis yang layak diapresiasi dan direplikasi di berbagai wilayah lain. Lebih dari sekadar produk pangan, kental manis adalah potret dari tantangan besar literasi gizi di Indonesia.

Ketika masyarakat belum mampu membedakan antara susu, minuman berpemanis, dan produk olahan lainnya, maka dibutuhkan intervensi kebijakan yang tidak hanya berbentuk regulasi di atas kertas, tetapi juga aksi nyata di lapangan.

Pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, hingga para pemengaruh di media sosial harus mengambil tanggung jawab bersama untuk meluruskan informasi yang salah dan menyuarakan fakta ilmiah. Masa depan generasi Indonesia tidak boleh dikompromikan hanya karena kekeliruan persepsi dan lemahnya pengawasan.

Jika tidak segera dikoreksi, kekeliruan ini akan terus diwariskan, dan bangsa ini akan kehilangan kesempatan untuk membentuk masyarakat yang sehat, cerdas, dan tangguh secara fisik sejak usia dini. Oleh karena itu, pembenahan konsumsi kental manis bukan sekadar isu label, tapi juga soal masa depan kesehatan bangsa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Gunung Piramid Disisir untuk Mencari Dua Pendaki yang Hilang

59 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Gunung Piramid Disisir untu...
Olahraga
Turnamen Cincinnati Open ak...

Gelar Mubadala Milik Taylor Fritz

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Gelar Mubadala Milik Taylor...
Megapolitan
Obat Keras Daftar G Sebanya...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp61.450/...

Kepala Daerah di Bali Berminat Dirikan Sekolah Berbasis Hindu

Kepala Daerah di Bali Berminat Dirikan Sekolah Berbasis Hindu

04 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.