Kenaikan Harga Minyak Berpotensi Membenamkan Rupiah Lebih Dalam
📅 Rabu, 18 Jun 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Pemerintah diminta mewaspadai dampak ekonomi dari konflik Israel-Iran di Timur Tengah, khususnya terhadap sektor energi global di mana harga minyak dunia berpotensi melonjak.
Wakil Ketua MPR RI, Bambang Wuryanto mengatakan kalau perangnya agak lama, maka harga minyak bisa naik. Kalau harga minyak naik, itu pasti berdampak pada nilai tukar rupiah yang bisa terbenam lebih dalam.
Menurut dia, setiap gejolak dalam perdagangan minyak akan berdampak langsung pada penguatan dollar AS dan pelemahan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Hal itu jelasnya mengacu pada pada sejarah di masa lalu tepatnya pada 1971, ketika minyak tidak lagi dipatok dengan emas tapi dengan dollar Amerika Serikat (AS). “Ini ilmu sederhana saja. Kalau harga minyak naik, logikanya dollar juga akan naik, dan rupiah akan melemah,” katanya.
Meski demikian, dia menilai dampak konflik Iran-Israel terhadap pasokan minyak Indonesia kemungkinan tidak signifikan karena jenis minyak Iran adalah minyak berat atau “heavy crude” yang hanya bisa diolah di kilang tertentu.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kita tidak terlalu banyak memakai minyak berat. Kilang Cilacap memang bisa, tapi itu pun tidak banyak. Artinya dari sisi teknis, pengaruh langsung terhadap kilang kita tidak terlalu besar,” tuturnya.
Dia pun menegaskan Pertamina sebagai pengelola utama sektor minyak dan BBM di Indonesia harus siap dengan berbagai skenario, termasuk potensi gejolak harga minyak dunia akibat konflik tersebut.
Menanggapi kondisi terkini di Timur Tengah, Pakar Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (UB), Malang, Adhi Cahya Fahadayna, menuturkan, pada Selasa (17/6), harga Brent crude tercatat di kisaran 77 dollar AS per barel, sedangkan WTI berada di sekitar 73 dollar AS per barel.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak awal tahun, Brent katanya menunjukkan kenaikan kumulatif sekitar 3,7 persen, namun lonjakan tajam terjadi pada pekan kedua Juni, ketika harga sempat melonjak hingga 11 persen setelah serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran.
“Lonjakan ini mencerminkan pembebanan risk premium geopolitik antara 6 hingga 8 dollar AS per barel di atas harga fundamental, sehingga memicu volatilitas harian hingga dua hingga tiga persen per sesi perdagangan,” ungkapnya.
Adhi melanjutkan, secara kuantitatif, hampir 18 hingga 19 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz setiap hari, setara dengan sekitar 20 persen dari konsumsi minyak global. Ancaman pemblokadean hanya sebesar 10 hingga 20 persen dari volume tersebut yaitu sekitar 1,8 hingga 3,8 juta barel harian sudah cukup untuk mendorong kenaikan harga tambahan tujuh hingga empat belas persen.
Instrumen Negosiasi
Dalam skenario terburuk, Brent berpotensi menembus level 100 hingga 110 dolar AS per barel dalam hitungan hari, apabila jalur ini benar-benar ditutup sebagai respons Iran terhadap tekanan militer atau sanksi ekonomi.
Dari perspektif realisme offensive ala John Mearsheimer, dominasi Iran atas Selat Hormuz merupakan wujud upaya maksimasi kekuatan relatif untuk menjamin keamanan rezim. Dengan mengintensifkan patroli maritim dan latihan militer di kawasan chokepoint, Teheran memproyeksikan kemampuannya mengancam pasokan energi global sebagai instrumen negosiasi strategis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!