Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Plastik Biodegradabel: Solusi atau Ilusi Ramah Lingkungan?

📅 Minggu, 15 Jun 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Sebuah studi yang terbit pada 2024 lalu membandingkan pembentukan mikroplastik dari plastik konvensional dan bioplastik pada saat penguraian dalam air. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata mikroplastik justru lebih banyak terbentuk dari bioplastik, sebab kemampuannya untuk terurai dalam air sangat rendah. Di perairan, bioplastik akan mengapung atau mengendap di badan air menjadi sedimen.

Sama seperti sampah plastik biasa, plastik biodegradabel juga mengandung berbagai zat aditif atau bahan tambahan untuk meningkatkan kualitas produknya, seperti plasticizer (pelembut), flame retardant (penahan api), antioksidan, agen hidrofobik atau zat anti-air dan senyawa kimia berbahaya lainnya.

Pada saat plastik tersebut terurai, zat aditif tersebut ikut terlepas ke lingkungan dan berpotensi membahayakan kesehatan. Penelitian terbaru pada tikus menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap bioplastik berbahan dasar pati misalnya, bisa menyebabkan gangguan metabolisme, seperti resistensi insulin dan gangguan dalam pengolahan lemak tubuh.

Mengurangi plastik adalah opsi terbaik

Jika melihat fakta-fakta di atas, maka kantong plastik biodegradabel, baik bioplastik maupun oxo-biodegradable, tidak bisa disebut sebagai alternatif solusi mengatasi polusi plastik.

Akar masalah plastik harus dilihat dari seluruh aspek—mulai dari bahan baku sampai limbah akhirnya.

Bioplastik, meski bebas dari bahan baku petrokimia seperti minyak bumi atau gas alam misalnya, bahan bakunya tetap berasal dari bahan alami seperti pati jagung atau singkong yang berpotensi menyebabkan persaingan dengan pangan serta membuka lahan.

Plastik biodegradabel, baik bioplastik maupun oxo-biodegradable, juga masih bisa menghasilkan limbah, dengan sejumlah senyawa yang bisa mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan.

Jadi, selama belum ada sistem pengolahan limbah plastik biodegradabel yang tepat, langkah paling ramah lingkungan adalah mengurangi penggunaan plastik, terutama yang sekali pakai.

Dalam hal ini, bukan hanya kesadaran konsumen akan sampah plastik yang dibutuhkan. Lebih penting lagi, sejak dari hilir, pemerintah harus segera membatasi produksi dan menetapkan kuota maksimum per tahun untuk plastik murni dengan melakukan kajian yang mempertimbangkan kebutuhan plastik nasional, material footprint, dan kesiapan teknologi pengolahan limbah plastik. The Conversation

Watumesa A. Tan, Associate Professor in Biotechnology, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Dian Burhani, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Thailand Takluk, Filipina R...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.