Cara Aman Mengolah dan Mengonsumsi Daging Kurban Menurut Pakar Gizi
📅 Kamis, 05 Jun 2025, 15:45 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: The Conversation
SURABAYA - Pakar gizi Universitas Airlangga Surabaya Lailatul Muniroh SKM MKes memaparkan cara aman dalam mengolah dan mengonsumsi daging saat Idul Adha untuk mencegah penyakit metabolik.
“Masyarakat jangan mengkonsumsi daging tanpa dikontrol, apalagi menyantap jeroan yang tinggi kolesterol, dan memasaknya dengan cara yang tidak sehat seperti digoreng atau dimasak dengan santan,” kata Lailatul Muniroh dalam keterangan di Surabaya, Kamis (5/6).
Ia menekankan bahwa metode pengolahan daging sangat mempengaruhi kandungan lemak dan senyawa toksik di dalamnya.
Proses memasak bersuhu tinggi seperti digoreng atau dibakar hingga hangus bisa menghasilkan senyawa berbahaya.
“Meskipun tidak serta-merta menurunkan kadar lemak, metode memasak rendah suhu seperti mengukus jauh lebih sehat daripada membakar hingga hangus,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia juga meluruskan mitos mencuci daging dengan air panas atau jeruk nipis untuk mengurangi kolesterol. Menurutnya, kolesterol berada di dalam jaringan otot dan tidak bisa larut dalam air.
“Jadi, mencuci daging meskipun dengan air panas atau jeruk nipis tidak akan mengurangi kolesterolnya,” tegasnya.
Lailatul menepis anggapan bahwa daging kambing lebih berbahaya dibanding daging sapi. Daging kambing bahkan memiliki lemak jenuh dan kalori lebih rendah dalam banyak kasus.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Yang penting adalah jumlah dan cara pengolahannya. Porsi aman konsumsi daging merah matang itu sekitar 50–70 gram per sajian, maksimal dua hingga tiga kali seminggu,” katanya.
Ia menyarankan konsumsi daging perlu disertai makanan tinggi serat seperti sayur dan buah agar pencernaan lancar serta kadar kolesterol tetap terjaga.
“Jika ingin manfaatnya optimal, daging harus dikonsumsi bersamaan dengan serat, protein nabati, dan dimasak dengan metode sehat,” tuturnya.
Kunci pola makan sehat, menurut dia adalah keseimbangan, bukan pantangan. Masyarakat tetap boleh makan daging asal tahu batas dan cara pengolahannya.
“Keseimbangan dan kesadaran adalah kunci. Bukan berarti tidak boleh makan daging, tapi harus tahu kapan cukup dan bagaimana mengolahnya,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!