Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Aktivitas Pabrik di Asia Melemah pada Mei, Tarif AS dan Lesunya Permintaan China Membayangi Prospek Kawasan

📅 Senin, 02 Jun 2025, 15:15 WIB | Oleh:
Aktivitas Pabrik di Asia Melemah pada Mei, Tarif AS dan Lesunya Permintaan China Membayangi Prospek Kawasan Doc: Reuters

JAKARTA - Aktivitas manufaktur di berbagai negara Asia mengalami penurunan pada bulan Mei, seiring melemahnya permintaan dari China dan dampak tarif perdagangan Amerika Serikat, terutama di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Survei swasta yang dirilis Senin (27/5) menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang merata di kawasan, memperkuat kekhawatiran akan prospek pertumbuhan ekonomi yang semakin suram di wilayah yang selama ini dikenal sebagai motor pertumbuhan global.

Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan, yang sangat bergantung pada perdagangan internasional, mencatatkan kontraksi lanjutan pada aktivitas pabrik mereka. Di Jepang, Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Bank Au Jibun tercatat di angka 49,4 pada Mei, sedikit membaik dari April namun tetap berada di bawah batas 50,0—yang menandakan kontraksi selama 11 bulan berturut-turut. Sementara itu, PMI Korea Selatan tercatat di 47,7, tetap di zona negatif selama empat bulan terakhir.

Analis menilai tekanan datang dari dua arah: permintaan global yang melemah dan pembalasan tarif yang dikenakan terhadap negara-negara Asia.

“Sulit untuk mengharapkan peningkatan aktivitas manufaktur di Asia dalam waktu dekat karena negara-negara di kawasan ini dikenai tarif ‘timbal balik’ yang cukup tinggi,” kata Toru Nishihama, Kepala Ekonom Pasar Berkembang di Dai-ichi Life Research Institute.

Masalah semakin diperparah oleh China, ekonomi terbesar kedua di dunia. Data resmi menunjukkan bahwa sektor manufaktur China menyusut untuk bulan kedua berturut-turut pada Mei, mencerminkan melemahnya permintaan domestik. Kondisi ini mendorong Tiongkok untuk meningkatkan ekspor produk murah ke negara-negara Asia lain, yang pada gilirannya menciptakan tekanan deflasi di kawasan.

Tak hanya Jepang dan Korea Selatan, India juga menunjukkan sinyal pelemahan. Pertumbuhan manufakturnya tercatat melambat ke level terendah dalam tiga bulan, dipengaruhi oleh melemahnya permintaan, kenaikan harga, dan ketegangan geopolitik.

Negara-negara seperti Vietnam, Indonesia, dan Taiwan pun mengalami kontraksi aktivitas pabrik, menurut survei swasta yang dirilis bersamaan. Sementara itu, ketegangan dagang terus memanas. Presiden Trump kembali menuduh China melanggar kesepakatan dua arah untuk mengurangi tarif, dan mengumumkan penggandaan tarif baja dan aluminium global menjadi 50%. Langkah ini mengejutkan pelaku pasar dan memperburuk situasi perdagangan internasional.

Jepang dan AS telah sepakat untuk melanjutkan negosiasi perdagangan menjelang KTT G7 pada Juni, namun perunding utama Jepang menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan tanpa penghapusan tarif AS secara menyeluruh, terutama terhadap sektor otomotif.

Dengan semakin suramnya prospek global dan ketidakpastian tinggi terkait kebijakan dagang, para analis memperkirakan pemulihan sektor manufaktur Asia masih akan tertunda, dan risiko perlambatan ekonomi masih membayangi hingga paruh kedua 2025.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.