Ekonomi NTB Sempat Merosot, Tapi Tak Tersesat: Gubernur Klarifikasi ke Pusat
📅 Kamis, 29 Mei 2025, 21:48 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Ahmad Subaidi
LOMBOK TENGAH - Pertumbuhan ekonomi daerah juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan, sehingga penting untuk memprioritaskan pembangunan ekonomi daerah.
Pertumbuhan ekonomi daerah merupakan indikator penting yang perlu diperhatikan dan dikelola dengan baik agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan wilayah secara keseluruhan.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal memberikan penjelasan terkait teguran soal pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2025 yang minus 1,47 persen.
"Sebenarnya itu bukan teguran, itu pertanyaan dari Mendagri (Menteri Dalam). Saya juga sudah berkomunikasi langsung kepada beliau menjelaskan, karena pada saat rapat itu, saya tidak bisa hadir sehingga saya menjelaskan setelah rapat," ujarnya di Lombok Tengah, Rabu (28/5).
Ia menjelaskan, duduk persoalan yang sebenarnya adalah pada sektor pertambangan. Sedangkan pada hal yang lain, pertumbuhan ekonomi NTB malah pada posisi naik dengan angka 5,57 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Duduk persoalannya bahwa, sebenarnya kalau kita mau melihat pertumbuhan ini di luar pertambangan sebenarnya kita tumbuh 5,57 persen. Bahkan di sektor pertanian kita tumbuh lebih dari 10 persen," imbuhnya.
Dengan begitu Lalu Iqbal berujar, sebenarnya perekonomian NTB pada posisi "on the trek". Ia menyebut, yang memicu sektor pertambangan tidak stabil saat ini karena smelter milik PT PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sudah resmi sehingga izin ekspor konsentrat dihentikan.
"Kita ketahui bersama tahun lalu itu secara resmi smelter yang ada PT AMNT itu sudah berfungsi. Sejak diresmikan-nya smelter itu maka izin ekspor konsentrat PT AMNT itu dihentikan. Sementara pada saat berjalan itu kapasitasnya baru 40 persen. Jadi terjadi lah penumpukan konsentrat, sehingga tidak ada produksi, produksinya turun sampai 54 persen," ujarnya.
Bahkan, satu dua bulan terakhir ini smelter itulah sudah berhenti sama sekali karena ada masalah yang harus di investigasi. Dengan begitu, ia melihat adanya penurunan ini dikarenakan sektor pertambangan saja.
"Jadi ini fenomena yang muncul karena smelter baru beroperasi. Bukan hanya AMNT yang mengalami seperti itu, Freeport juga mengalami seperti itu," bebernya.
Lalu Iqbal mengakui jika dirinya sejak awal sudah diperingatkan oleh tim transisi-nya soal kemungkinan akan ada penurunan pertumbuhan ekonomi jika digabungkan dengan tambang.
"Itu sebabnya dua minggu yang lalu saya sudah bertemu langsung dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, meminta agar ada relaksasi ekspor bagi PT AMNT dalam jumlah tertentu dan waktu tertentu untuk mengatasi seperti ini," ungkapnya.
Hal itu dilakukan untuk mengatasi personal seperti saat ini. Ia melihat, dampak dari masalah ini harus segera diatasi, jika tidak maka akan berdampak ke sektor yang lain.
"Karena kalau ini tidak segera kita atasi maka tahun depan itu bagi hasilnya bisa nol," tegasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!