Impian Meraih Pertumbuhan Tinggi Sudah Tidak Rasional
📅 Selasa, 27 Mei 2025, 01:15 WIB | Oleh: Eko S
Doc: istimewa
JAKARTA - Target Pemerintah untuk meraih pertumbuhan ekonomi tinggi pada tahun 2025 dinilai sudah tidak rasional. Hal itu karena kesalahan di awal start tahun ini dengan kebijakan realokasi anggaran yang menyebabkan terdapat berbagai penyesuaian sehingga belanja Pemerintah dan investasi tertahan.
Dari sisi timing pun kurang pas, karena kebijakan justru dilakukan di saat kondisi eksternal khususnya ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sehingga berpengaruh pada ekspor.
Atas pertimbangan berbagai tantangan tersebut, sejumlah lembaga seperti IMF, Bank Indonesia dan terakhir Citibank merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 ini.
Chief Economist Citibank NA Indonesia (Citi Indonesia) Helmi Arman memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal melambat ke level 4,7 persen pada akhir 2025. Hal itu mengacu pada perlambatan kinerja ekonomi di kuartal I 2025 yang hanya tumbuh 4,87 persen secara tahunan (yoy).
“Kita melihatnya tahun ini memang agak slow down karena memang sudah kelihatan di kuartal I, dan katanya di kuartal II ini juga masih akan ada dampak dari lambatnya recovery dari konsumsi pemerintah. Jadi, kita expect-nya memang turun di bawah 5 persen tahun ini, sekitar 4,7 persen,” kata Helmi di Jakarta, Senin (26/5).
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelambatan jelas Helmi dipicu oleh lemahnya konsumsi pemerintah dan menurunnya investasi yang menjadi penopang utama pertumbuhan.
Proyeksi Citi tersebut selaras dengan Bank Indonesia (BI) yang sebelumnya telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 ke kisaran 4,6-5,4 persen, dari yang sebelumnya 4,7-5,5 persen.
Menurut Helmi, penurunan kinerja ekonomi nasional pada awal tahun ini terlihat jelas pada dua komponen utama, yakni belanja pemerintah dan investasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Realokasi anggaran di awal tahun disebut membuat sejumlah belanja pemerintah tertahan, sehingga berdampak langsung pada konsumsi pemerintah yang terkontraksi hingga 39,89 persen pada triwulan I 2025.
“Berbagai belanja harus di-stock dan sementara pengalihannya ke belanja-belanja yang bersifat prioritas ini makan waktu, sehingga secara overall terjadi pelemahan yang tercermin dari negatifnya pertumbuhan konsumsi pemerintah di triwulan I,” jelasnya.
Sementara itu, investasi juga menunjukkan perlambatan kuartal I, hanya tumbuh sekitar 2 persen, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 5 persen.
Sulit Dihindari
Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata menilai perlambatan sudah sulit dihindari, namun masih dapat ditekan dampaknya melalui respons kebijakan yang tepat sasaran.
“Impian untuk meraih pertumbuhan tinggi tidaklah rasional untuk saat ini. Yang penting sekarang adalah bagaimana mencegah pelambatan tersebut semakin dalam,” kata Aloysius dalam keterangannya, di Yogyakarta Senin (26/5).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!