Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penting Merevitalisasi Manufaktur guna Atasi Kesenjangan Struktural

📅 Jumat, 09 Agu 2024, 00:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Penting Merevitalisasi Manufaktur guna Atasi Kesenjangan Struktural Doc: ISTIMEWA
Ket. International Monetary Fund (IMF) / Dana Moneter Internasional

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan Article IV Consultation tahun 2024 yang dirilis Rabu (7/8) mengapresiasi otoritas Indonesia atas catatan positif mengenai langkah-langkah kebijakan yang telah ditempuh, terutama yang terkait dengan disiplin fiskal, penurunan inflasi sesuai dengan kisaran target yang telah ditetapkan dan kebijakan moneter yang memperhatikan perkembangan data (data dependent), serta upaya pendalaman pasar dan upaya penguatan efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Dalam laporannya, IMF memproyeksikan kinerja ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh masing-masing 5 dan 5,1 persen pada tahun 2024 dan 2025, di tengah beberapa risiko yang perlu diwaspadai, seperti volatilitas harga komoditas, perlambatan pertumbuhan negara mitra dagang utama, dan spillover akibat kondisi suku bunga tinggi untuk waktu yang lama (high for longer) di pasar keuangan global.

Dalam salah satu rekomendasinya, IMF menilai pentingnya menjembatani kesenjangan struktural untuk mencapai potensi pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif.

Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan salah satu rekomendasi IMF yang sangat relevan bagi kondisi Indonesia di tengah tingginya utang pemerintah dan swasta adalah perlunya mempertahankan kehati-hatian dalam kebijakan fiskal dan melanjutkan reformasi untuk melindungi ketahanan sektor keuangan.

"Namun, dari sudut pandang saya, isu utama yang harus ditangani adalah deindustrialisasi yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade," kata Aloysius.

Deindustrialisasi di Indonesia dapat dilihat dari penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada awal 2000-an, sektor manufaktur menyumbang sekitar 29 persen dari PDB, namun angka ini terus menurun hingga mencapai sekitar 19 persen pada 2020.

Penurunan itu juga menunjukkan adanya pergeseran struktur ekonomi dari manufaktur ke sektor jasa dan komoditas, yang sering kali tidak memberikan nilai tambah sebesar sektor manufaktur.

Menurut Aloysius, dengan jumlah penduduk yang besar, sulit bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tanpa adanya industrialisasi yang kuat. Industrialisasi berbasis teknologi dan tenaga kerja yang terampil sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing global.

Dari sisi manufaktur perlu mengedepankan efisiensi, bila perlu meremajakan teknologi disertai dukungan tenaga kerja yang lebih produktif.

"Hasil dari pendidikan vokasi yang marak beberapa tahun terakhir kiranya dapat diaktualisasikan, sekaligus untuk membuktikan apakah format pendidikan vokasi sesuai dengan kebutuhan," jelas Aloysius.

Sementara dari sisi konsumen, khususnya dalam negeri, daya beli harus dipulihkan. Dalam hal ini, sebaiknya jangan sampai menaikkan pajak yang membebani masyarakat. Implikasinya tentu terkena ke kapasitas fiskal sehingga peningkatan optimalisasi penggunaan anggaran pemerintah juga menjadi urgen.

"IMF memang memberikan apresiasi terhadap stance kebijakan moneter Indonesia dan menyarankan untuk melanjutkan reformasi keuangan. Namun, saya percaya bahwa upaya untuk menjembatani kesenjangan struktural harus difokuskan pada revitalisasi sektor manufaktur dengan teknologi canggih dan tenaga kerja terampil, serta memastikan bahwa daya beli konsumen tetap terjaga," papar Aloysius.

Tidak Capai Target

Dalam kesempatan lain, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengatakan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2024 sebenarnya menggambarkan terjadinya perlambatan ekonomi, karena hanya tumbuh 5,05 persen (year on year/yoy), lebih rendah dari capaian triwulan I-2024 yang tumbuh 5,11 persen (yoy).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Olahraga
Harga Tiket Final US Open S...
Megapolitan
LRT Jabodebek Targetkan 30 ...
Olahraga
Marc Marquez Menangi MotoGP...

Negara-Negara BRICS Bersatu Bela Kedaulatan Suriah

54 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Negara-Negara BRICS Bersatu...
Advertisement
Tragedi Masalembo Meledak, Menhub Dudy Perintahkan Usut Tuntas Penyebab KM Virgo Transport 8

Tragedi Masalembo Meledak, Menhub Dudy Perintahkan Usut Tuntas Penyebab KM Virgo Transport 8

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.