Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Di Tengah Krisis, OJK Ungkap Sektor Keuangan Masih Tangguh, Kok Bisa?

📅 Jumat, 09 Mei 2025, 16:38 WIB | Oleh: Tim Penulis
Di Tengah Krisis, OJK Ungkap Sektor Keuangan Masih Tangguh, Kok Bisa? Doc: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra.
Ket. Ilustrasi - OJK 'Innovation Center for Digital Financial Technology' (Infinity), Jakarta.

JAKARTA - Sistem keuangan nasional berfungsi dengan baik, efisien, dan mampu bertahan terhadap berbagai guncangan ekonomi, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. 

Ini menciptakan alokasi sumber pembiayaan yang stabil dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui hasil Rapat Dewan Komisioner pada April 2025 menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah-tengah tingginya dinamika perekonomian dan volatilitas pasar keuangan global.

“Saat ini, sektor jasa keuangan nasional dinilai tetap resilient dengan permodalan yang solid dan mampu menyerap potensi peningkatan risiko ke depan,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RKDB) April 2025 di Jakarta, Jumat (9/5).

Seiring ketidakpastian yang meningkat akibat tarif dagang Amerika Serikat (AS) dan indikator ekonomi global yang cenderung bergerak melemah, Mahendra menyampaikan bahwa OJK terus memonitor dinamika global dan domestik serta melakukan stress test untuk melihat dampaknya terhadap sektor jasa keuangan.

OJK juga meminta lembaga jasa keuangan (LJK) secara proaktif melakukan asesmen atas perkembangan terkini dan melakukan asesmen lanjutan atas dampak kebijakan penerapan tarif yang dapat mempengaruhi kinerja debitur, khususnya yang memiliki eksposur langsung pada sektor terdampak.

Dengan begitu, LJK mampu mengambil langkah antisipatif dalam memitigasi peningkatan risiko, termasuk membentuk pencadangan yang memadai.

Mahendra menjelaskan, perkembangan pada April 2025 didominasi oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan global dengan rencana pengenaan tarif impor resiprokal oleh AS yang mendorong kenaikan tajam volatilitas di pasar keuangan global.

Meskipun Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan pemberlakuan tarif selama 90 hari, tensi perdagangan antara AS dan Tiongkok tetap tereskalasi.

Tingginya ketidakpastian akibat dinamika perdagangan global telah mendorong lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global.

IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 menjadi 2,8 persen, jauh lebih rendah dibandingkan historis tahun 2000-2019 sebelum COVID-19 di level 3,7 persen. Sementara WTO merevisi proyeksi volume perdagangan barang global menjadi terkontraksi 0,2 persen dari prakiraan sebelumnya tumbuh 2,7 persen.

Di AS, meskipun data ketenagakerjaan relatif solid, sejumlah indikator aktivitas ekonomi terbaru mengindikasikan perlambatan seperti inflasi, tingkat kepercayaan konsumen, dan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2025.

Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada 2025 diproyeksikan menjadi 1,4 persen dari sebelumnya prakiraan 2 persen. Pasar mulai memperkirakan penurunan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) secara lebih agresif dengan pemangkasan pertama diperkirakan pada bulan Juni tahun ini.

Di Tiongkok, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tercatat solid, ditopang oleh kinerja sektor manufaktur. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh strategi front loading ekspor guna mengantisipasi pemberlakuan tarif tambahan dari AS. Dari sisi permintaan, meskipun lebih lemah, terdapat indikasi perbaikan seiring dengan peningkatan inflasi inti dan penjualan retail di Tiongkok.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
KAI: Kunjungan Wisatawan La...
Nasional
Bapanas akan Mobilisasi Sto...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.