Wanita Hebat Kalimantan Timur: Dari Masa ke Masa
📅 Selasa, 22 Apr 2025, 09:00 WIB | Oleh: Yebdi TrismarSemangatnya dalam memperjuangkan pendidikan, khususnya bagi kaum perempuan, patut untuk terus dikenang dan diteladani.
Salbiah
Namanya mungkin tak setenar para pejuang kemerdekaan di Jawa, tapi kobaran semangat nasionalismenya turut menyala dalam organisasi Rukun Pemuda Indonesia (Rupindo) di Samarinda pada dekade 1940-an.
Kiprahnya sebagaimana tertulis dalam buku sejarawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip, menjadi bukti betapa kaum perempuan memiliki andil dalam menanamkan benih-benih persatuan dan kesadaran berbangsa di tanah Borneo.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rupindo, organisasi kepemudaan yang lahir di Samarinda pada tahun 1940, memiliki pandangan progresif dalam melibatkan kaum muda. Tak hanya laki-laki, perempuan pun didapuk menjadi pengurus, sebuah langkah maju yang mencerminkan kesadaran akan pentingnya partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat dalam perjuangan.
Salbiah menjadi salah satu srikandi yang tercatat dalam jajaran pengurus Rupindo, bersama Masriah, Fatimah, Halimatussa'diyah, Norsehah, Sadariah, dan Aad Sangadji.
Di tengah dinamika organisasi, figur Salbiah muncul sebagai salah satu yang cukup menonjol. Keberanian dan komitmennya terhadap cita-cita nasional terlihat jelas ketika ia turut serta dalam Kongres Gabungan Pemuda Indonesia Seluruh Kalimantan (Gappika) yang berlangsung di Barabai, Kalimantan Selatan, pada 26-29 Maret 1948.
Bersama tokoh-tokoh pemuda lainnya seperti Moeis Hassan dan Oemar Dachlan, Salbiah hadir sebagai representasi semangat perjuangan dari Kalimantan Timur.
Djumanan Hasyim
Di tengah minimnya partisipasi perempuan dalam kancah politik dan birokrasi Kalimantan Timur pada dekade 1950-an, nama Djumanan Hasyim muncul sebagai oasis. Perempuan tangguh yang berasal dari lingkungan Rumah Sakit Ibu dan Anak Aisyiyah ini mencatatkan dirinya sebagai legislator perempuan pertama di DPRD Kalimantan Timur sejak tahun 1957.
Menurut catatan sejarawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip, keterlibatan Djumanan di parlemen bukan sekadar formalitas pengisi kuota. Ia menunjukkan peran sentral dalam dinamika politik daerah, terutama ketika terjadi kemelut kepemimpinan di awal tahun 1959.
Saat itu, Kalimantan Timur dilanda dualisme kepemimpinan daerah. Selain gubernur resmi, APT Pranoto, muncul pula sosok lain, IA Moeis, yang mengklaim sebagai kepala daerah. Situasi ini menciptakan ketidakpastian dan menghambat jalannya roda pemerintahan.
Di tengah kebuntuan tersebut, Djumanan Hasyim, yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPRD menggantikan A Azis Samad, tampil sebagai pemimpin yang tegas dan berani.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!