Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kebudayaan Harus Menjadi Identitas dan Karakter Kota

📅 Rabu, 24 Jun 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kebudayaan Harus Menjadi Identitas dan Karakter Kota Doc: ANTARA/HO-Pemprov DKI Jakarta
Ket. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengukuhkan 16 anggota Akademi Jakarta periode 2026-2031 di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (23/6).

JAKARTA – Kebudayaan tak boleh hanya menjadi pelengkap pembangunan. “Dia mesti menjadi karakter dan identitas Jakarta,” tandas Gubernur Jakarta, Pramono Anung.

Dia menegaskan ini saat mengukuhkan 16 anggota Akademi Jakarta periode 2026–2031 di Jakarta, Selasa (23/6). Mereka terdiri atas sembilan anggota lama dan tujuh baru. Akademi Jakarta merupakan lembaga kebudayaan yang menghimpun seniman, budayawan, dan cendekiawan untuk memberikan pandangan serta rekomendasi bagi pengembangan seni budaya Jakarta.

Pramono berharap para anggota yang dikukuhkan dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi Jakarta dalam merumuskan arah kebudayaan menjelang lima abad dan mendukung transformasi Jakarta sebagai kota global. “Dalam transformasi menuju kota global, budaya tidak boleh hanya menjadi pelengkap pembangunan. Budaya harus menjadi identitas, karakter, dan kekuatan yang membedakan Jakarta dari kota-kota besar lain di dunia,” ujarnya.

Gubernur menegaskan, Pemprov Jakarta akan membuka ruang yang lebih luas bagi seniman, komunitas, dan masyarakat untuk berkarya serta berekspresi. Pembenahan tata kelola fasilitas kesenian, termasuk Taman Ismail Marzuki, juga menjadi perhatian agar ruang budaya semakin inklusif dan mudah diakses.

“Jakarta ingin membuka ruang yang lebih luas bagi budaya, seni, dan ekspresi masyarakat. Karena itu, pembenahan, perbaikan, dan pengelolaan bersama panggung-panggung utama seperti Taman Ismail Marzuki menjadi penting untuk membentuk wajah seni dan budaya Jakarta ke depan,” tuturnya.

Dukungan terhadap ekosistem budaya juga dilakukan melalui pembukaan kembali Planetarium Jakarta, peningkatan fasilitas Taman Ismail Marzuki, serta pemberian insentif berupa keringanan pajak 50 persen bagi produksi film. Menurutnya, Jakarta harus tumbuh sebagai kota yang terbuka bagi beragam komunitas dan ekspresi budaya. Hal itu tecermin dalam penyelenggaraan berbagai perayaan keagamaan dan budaya di ruang publik, mulai dari Christmas Carol, Imlek, Waisak, dan Nyepi hingga Idul Fitri.

“Ruang-ruang seperti itulah yang harus kita jaga bersama. Mudah-mudahan Jakarta semakin penuh warna. Pembangunan fisik terus berjalan, tetapi yang paling utama membuat warga merasa nyaman,” pungkasnya.

Sementara itu, anggota Akademi Jakarta, N Syamsuddin Ch Haesy, menilai, seni dan budaya perlu ditempatkan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi Jakarta, bukan semata-mata sektor yang membutuhkan pembiayaan. Pertama, meningkatkan atraksi seni dan budaya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Olahraga
Kalah Telak di Piala AFF: T...
Olahraga
Daftar 18 Pemain Voli Putra...

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.