Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Apple Tertekan Tarif Trump dan Tantangan AI

📅 Selasa, 08 Apr 2025, 13:45 WIB | Oleh:
Apple Tertekan Tarif Trump dan Tantangan AI Doc: YCharts
Ket. Data Rasio PE AAPL oleh YCharts

Pasar saham global terguncang menyusul pengumuman tarif baru oleh pemerintahan Trump pada 2 April, dan Apple Inc. (NASDAQ: AAPL) menjadi perusahaan teknologi yang paling terpukul dalam kelompok "Magnificent Seven"—yang mencakup Microsoft, Amazon, Alphabet, Meta, Nvidia, dan Tesla.

Rencana tarif sepihak sebesar 10% terhadap impor AS, yang mulai berlaku pada 5 April, serta tarif timbal balik tambahan mulai 9 April, berpotensi mengganggu arsitektur perdagangan global dan memicu kenaikan harga barang konsumsi. Apple, yang rantai pasok dan produksinya tersebar di luar negeri, terutama di Tiongkok, India, dan Asia Timur lainnya, sangat rentan terhadap dampak ini. Tarif tersebut bisa membuat harga iPhone melonjak hingga 43%, memicu potensi penurunan penjualan signifikan.

Namun, persoalan Apple tidak hanya berhenti pada tarif. Perusahaan ini juga dinilai terlambat dalam kompetisi kecerdasan buatan (AI). Meski telah mengintegrasikan fitur AI lewat “Apple Intelligence” dalam Siri dan iOS, respons pasar dinilai suam-suam kuku. Apple bahkan mengganti kepemimpinan divisi AI-nya, sebuah sinyal bahwa strategi awal mereka belum sesuai ekspektasi.

Secara valuasi, harga saham Apple dinilai terlalu tinggi dibandingkan potensi pertumbuhannya. Dengan rasio harga terhadap laba (P/E) yang masih di atas 30, saham Apple terlihat mahal, terlebih di tengah prediksi pertumbuhan laba jangka panjang yang terus menurun sejak 2022. Bahkan investor kawakan Warren Buffett, melalui Berkshire Hathaway, telah memangkas kepemilikan saham Apple-nya secara signifikan tahun lalu sebuah isyarat bahwa kekhawatiran sudah lama mengendap sebelum munculnya isu tarif.

Meski Apple tetap menjadi salah satu brand paling kuat dan inovatif di dunia, saat ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk masuk ke sahamnya. Harga saham yang masih tinggi dan ketidakpastian seputar kebijakan perdagangan menambah risiko investasi.

Apple sendiri baru-baru ini mengumumkan investasi besar senilai $500 miliar di AS, yang kemungkinan menjadi bagian dari upaya negosiasi untuk meringankan dampak tarif. Namun hingga kepastian mengenai tarif tercapai dan valuasi saham menjadi lebih masuk akal misalnya P/E mendekati 20 investor disarankan untuk menunggu dan melihat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
  • Industri Mesin Diperkuat, Indonesia Tak Mau Terus Bergantung Impor
    Langkah strategis Ditjen ILMATE Kemenperin yang disampaikan oleh ...
Daerah
Teknologi Pintar Dorong Kem...

Andrew Garfield Berhenti Menggunakan ChatGPT

1 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Rona
Andrew Garfield Berhenti Me...

George Clooney akan Membuka Restoran Italia di Prancis.

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Rona
George Clooney akan Membuka...

Kabut Asap Selimuti Singapura

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Luar Negeri
Kabut Asap Selimuti Singapura
Daerah
Kabut Asap Pekat Masih Meny...
Megapolitan
Digitalisasi Posyandu Mulai...
Advertisement
Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

08 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.