Cegah Obesitas dengan Membaca Informasi Gizi pada Kemasan Produk
📅 Selasa, 04 Mar 2025, 20:50 WIB | Oleh: Haryo BronoMasyarakat perlu memperhatikan empat informasi nilai gizi dalam label kemasan. Yaitu jumlah sajian per kemasan, energi total per sajian, zat gizi (lemak, lemak jenuh, protein, karbohidrat (termasuk gula), dan persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi) per sajian.
“Dalam rangka upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan Penyakit Tidak Menular (PTM), penerapan Prinsip Gizi Seimbang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, biasakan membaca Informasi Nilai Gizi sebelum membeli produk makanan atau minuman yang sesuai dengan kebutuhan gizi kita. Cermati dan batasi konsumsi gula, garam dan lemak sehari sesuai dengan anjuran dalam pesan kesehatan,” jelas Dwiana.
Secara khusus mengenai bahan tambahan pangan, Director of Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center, IPB Dr. Puspo Edi Giriwono, STP., Magr, menjelaskan, keamanan merupakan prasyarat penggunaan bahan tambahan pangan. Bahan ini berfungsi untuk menciptakan produk yang lebih sehat, praktis dan nikmat, dan juga lebih aman.
“Kajian keamanan bahan tambahan pangan dilakukan melalui analisis risiko dalam membantu menentukan batas atau dosis penggunaannya,” terangnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pendekatan kajian risiko tersebut meliputi hasil studi toksikologi yang mencakup ”Dose Response” sepanjang hidup model hewannya. Dari hasil ini kajian tersebut, dapat menentukan batasan Acceptable Daily Intake (ADI) yang dijamin keamanannya untuk konsumsi seumur hidup konsumen.
“Pendekatan kajian risiko ini merupakan pendekatan baru dalam membantu pengaturan penggunaan bahan tambahan pangan (BPT) yang bisa digunakan sehingga penggunaannya tidak sia-sia, aman dan melindungi konsumen,” tambahnya.
Penggunaan BTP yang tepat dapat meningkatkan daya saing produk bagi dunia industri yang akan meningkatkan daya saing bangsa di pasar global. Dapat disimpulkan, bahan tambahan pangan boleh digunakan dengan mengikuti aturan yang telah ditetapkan yang berlandaskan kajian ilmiah yang kokoh, sehingga aman dikonsumsi dan tidak perlu khawatir saat mengonsumsi makanan kemasan yang memiliki bahan tambahan pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami percaya bahwa setiap orang berhak hidup sehat dan mendapatkan makanan yang sehat pula. Nutrifood menyediakan pilihan makanan lebih sehat yang bebas dan rendah gula, rendah garam, dan rendah lemak hingga berbagai produk yang telah mendapatkan pelabelan “Pilihan Lebih Sehat” dari BPOM. Mari kita bersama-sama menciptakan perubahan yang positif dalam kesehatan masyarakat Indonesia dengan dimulai dari diri dan keluarga kita sendiri,” tutup Susana.
Bertepatan dengan Hari Obesitas Sedunia pada hari ini, Nutrifood bersama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM mengajak masyarakat meningkatkan literasi nilai gizi pada makanan kemasan dan memahami bahan tambahan pangan pada makanan untuk cegah obesitas.
Head of Strategic Marketing Nutrifood Susana, S.T.P., M.Sc., PD.Eng., mengatakan, Tahun ini Hari Obesitas Sedunia 2025 bertemakan “Changing Systems, Healthier Lives.” Kampanye ini mengajak semua pihak untuk bersama-sama memperhatikan sistem yang memengaruhi obesitas serta mengupayakan penanggulangan obesitas.
“Sistem terkecil dalam masyarakat adalah keluarga, dimana pemahaman atau literasi terhadap nilai gizi harus dimiliki oleh para keluarga termasuk dimulai dari diri sendiri setiap anggotanya,” ujar dia.
Hal inilah yang melatarbelakangi media workshop hari ini. Melalui edukasi, diharapkan keluarga memiliki pemahaman terhadap kandungan nilai gizi dari makanan yang dikonsumsi termasuk kandungan Gula, Garam dan Lemak serta Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang digunakan.”
Lebih lanjut Ibu Susana mengatakan, Nutrifood telah memimpin kampanye #BatasiGGL dan mendapatkan dukungan dari Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM RI sejak 2013, untuk memberi edukasi mengenai pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, lemak dan membaca label kemasan. Dengan demikian diharapkan semakin banyak orang terhindar dari risiko obesitas yang bisa menyebabkan prediabetes, diabetes dan penyakit tidak menular lainnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!