Arah Kebijakan Pangan Nasional Kini Berada di Titik Krusial
📅 Senin, 24 Feb 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiJika produk-produk berbasis jagung, sagu, ubi, dan sorgum mendapat dukungan promosi yang kuat, permintaan akan meningkat secara alami. Dengan meningkatnya permintaan, petani akan lebih termotivasi untuk menanam komoditas substitusi gandum tanpa harus dipaksa melalui kebijakan langsung.
“Lidah masyarakat harus terbiasa dengan makanan non-gandum. Jika konsumsi meningkat dan ada pasar yang stabil, petani secara alami akan beralih ke produksi yang lebih menguntungkan tanpa perlu dorongan dari regulasi yang ketat,” jelasnya.
Buat Perencanaan
Pada kesempatan terpisah, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, sumber karbohidrat sudah terdiversifikasi pada 50 tahun yang lalu berdasarkan kekuatan alam regional yang menghasilkan beras, jagung, sagu, talas dan singkong sebagai makanan pokok sumber karbohidrat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun tanpa perencanaan kebijakan pangan yang tepat dan seolah-olah ada pembiaran, maka sumber karbohidrat terkonsentrasi hanya kepada beras. Dengan penduduk yang sangat banyak dan areal pertanian penghasil beras semakin menipis, tentu saja tidak bisa menutupi permintaan.
“Jika memang mau swasembada, jangan swasembada beras, namun pangan. Tentu ini membutuhkan perencanaan dan kerja keras untuk mewujudkan,”tegas Suhartoko.
Ia pun menyoroti dalam proses pengolahan pangan masih banyak bergantung pada bahan baku luar negeri. Misalnya, mie instan yang bergantung pada impor gandum sebagai bahan baku terigu. Padahal, sebenarnya bisa menggunakan bahan baku dalam negeri seperti sorgum.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sebenarnya kita punya sumber bahan baku yang melimpah yang berasal dari pangan lokal seperti singkong, sorgum dan beras,” pungkas Suhartoko.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!