Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jika Andalkan Bansos dan Stimulus, Ekonomi Sulit Tumbuh 8%

📅 Selasa, 04 Mar 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Jika Andalkan Bansos dan Stimulus, Ekonomi Sulit Tumbuh 8% Doc: antara
Ket. Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata - Kebijakan seperti bansos dan stimulus diskon hari besar keagamaan memang bisa membantu menghadapi siklus-siklus ekonomi.

JAKARTA - Target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan 8 persen pada 2029 akan sulit dicapai jika kebijakan ekonomi yang diandalkan hanya berupa bantuan sosial (bansos) dan stimulus konsumsi terkait hari-hari besar keagamaan. 

Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, pada Senin (3/3) mengatakan kebijakan semacam itu hanya memberikan dampak jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

“Kebijakan seperti bansos dan stimulus diskon hari besar keagamaan memang bisa membantu menghadapi siklus-siklus ekonomi. Namun, efeknya sangat temporer. Setelah siklus belanja ini terjadi, pertumbuhan yang dihasilkan segera meredup,” kata Aloysius dari Yogyakarta.

Dalam kondisi daya beli masyarakat yang tengah anjlok, bansos dan subsidi lebih berperan sebagai komplemen yang cepat menguap. Oleh karena itu, menurutnya, tidaklah rasional jika stimulus yang bersifat temporer dan konsumtif dijadikan andalan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga dua kali lipat dari capaian saat ini.

“Yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan yang ambisius tersebut adalah kebijakan yang produktif, bukan yang selalu berangkat dari sisi pengeluaran. Jika pemerintah ingin menggunakan stimulus, seharusnya diarahkan ke sektor-sektor yang produktif dengan perspektif jangka panjang dan komprehensif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Aloysius menilai bahwa target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen tampaknya tidak disertai kalkulasi yang matang. Ia juga menyoroti bahwa masih banyak faktor penghambat pertumbuhan yang dibiarkan tanpa solusi konkret.

“Yang justru makin tampak adalah bahwa target pertumbuhan ini tidak disertai perhitungan yang realistis. Bahkan, masih ada kesan bahwa berbagai penghalang pertumbuhan, seperti korupsi yang makin transparan, tetap dibiarkan terjadi,” tandasnya.

Dengan kondisi seperti itu, Aloysius mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang diterapkan harus lebih berpihak pada produktivitas dan pembangunan jangka panjang, bukan sekadar upaya instan untuk merangsang konsumsi.

Tanpa perubahan fundamental dalam kebijakan ekonomi, target ambisius 8 persen pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi yang nyata.

Rekan Aloysius, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya Jakarta, YB. Suhartoko mengatakan, kontributor pendapatan nasional terbesar saat ini adalah konsumsi, sekitar 55 persen. Sedangkan terhadap pertumbuhan ekonomi konsumsi menyumbang sekitar 4,94 persen pada 2024. Kontribusi itu tidak mengalami perubahan berarti dalam 10 tahun terakhir ini.

“Ini artinya untuk mendorong pertumbuhan di menjadi 8 persen perlu upaya terobosan pendorong pertumbuhan,” papar Suhartoko.

Dari sisi APBN lanjutnya, nampaknya peran kebijakan fiskal ekspansif masih sulit diharapkan, mengingat sulitnya meningkatkan penerimaan pajak dan potensi penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam dua tahun ke depan.

Sumber pertumbuhan lain adalah investasi. Namun demikian, investasi Indonesia kurang efisien. Dengan ICOR (Incremental Capital Output Ratio), sekitar 6,33 maka untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen secara sederhana dibutuhkan pertumbuhan investasi sekitar 48 persen. Oleh karena itu, tantangan jangka pendeknya adalah menurunkan ICOR.

Peningkatan ekspor juga katanya suatu terobosan, terutama dari sisi kuantitas dan keberlanjutan ekspor. Namun, diversifikasi barang ekspor dan tujuan ekspor perlu segera dilakukan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.