Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Arah Kebijakan Pangan Nasional Kini Berada di Titik Krusial

📅 Senin, 24 Feb 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Arah Kebijakan Pangan Nasional Kini Berada di Titik Krusial Doc: antara
Ket. Dwijono Hadi Darwa nto Guru Besar Fakultas Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta - Diversifikasi pangan adalah langkah yang sangat baik dan strategis untuk mencapai ketahanan pangan jangka panjang.

JAKARTA - Kebergantungan pada pangan impor yang cukup lama menyebabkan Indonesia kini berada di titik krusial dalam menentukan arah kebijakan pangan nasional. Tingginya kebergantungan pada impor menurut pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran, Jakarta, Freesca Syafitri terlihat pada nilai impor pangan yang mencapai 11,88 persen dari total impor barang. 

Pemerintah pun diminta untuk belajar ke Vietnam yang telah membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, sebuah negara dapat bertransformasi dari importir menjadi eksportir beras terkemuka.

“Diversifikasi pangan harus menjadi prioritas guna mengurangi ketergantungan pada beberapa komoditas utama yang rentan terhadap fluktuasi harga global,” tegas Freeca.

Indonesia katanya kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, retorika swasembada pangan terus digaungkan, namun di sisi lain, realitas global yang penuh ketidakpastian menuntut adanya transformasi mendalam dalam sistem pangan nasional.

Pada akhir pekan lalu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) Fadli Zon mengatakan, Indonesia harus swasembada karbohidrat dan protein.

“Ini dari dulu saya kira kita di HKTI coba, orientasinya juga swasembada pangan ini adalah swasembada karbohidrat, kemudian swasembada protein,” kata Fadli.

Untuk mewujudkan swasembada karbohidrat, maka komoditas yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah jagung, sagu, ubi, talas, sorgum, dan berbagai umbi-umbian sebagai sumber pangan lokal. Hal itu berarti perlu ada diversifikasi pangan untuk menciptakan swasembada, sehingga Indonesia tak bisa hanya mengandalkan beras saja.

Sedangkan, swasembada protein, dia menilai banyak sumber protein di Tanah Air yang bisa diolah lebih lanjut seperti telur ayam dan berbagai komoditas di laut seperti ikan.

“Jadi, kita sangat bisa mempunyai satu target dalam waktu dekat swasembada karbohidrat dan swasembada protein,” kata Fadli.

Menanggapi hal itu, Guru Besar Fakultas Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto mendukung upaya diversifikasi pangan, namun dalam implementasinya harus mempertimbangkan tantangan produksi dan kebiasaan konsumsi masyarakat.

“Diversifikasi pangan adalah langkah yang sangat baik dan strategis untuk mencapai ketahanan pangan jangka panjang. Namun, tantangannya ada pada bagaimana meningkatkan produksi alternatif ini dan mengubah pola konsumsi masyarakat yang masih sangat beras-sentris,” kata Dwijono.

Pengembangan komoditas alternatif jelas Dwijono juga memerlukan dukungan kebijakan yang kuat, mulai dari insentif bagi petani, riset pertanian yang berkelanjutan, hingga kampanye edukasi kepada masyarakat untuk mengadopsi pola konsumsi yang lebih beragam.

“Tidak cukup hanya mengembangkan komoditas alternatif, tetapi juga harus ada dukungan dari pemerintah dan sektor swasta dalam hal teknologi, pasar, dan insentif bagi petani agar mereka mau beralih ke produksi pangan yang lebih beragam,” tambahnya.

Selain itu, Dwijono menekankan pentingnya kampanye dan dukungan terhadap produk-produk hilir hasil diversifikasi pangan. Menurutnya, keberhasilan diversifikasi tidak hanya bergantung pada produksi bahan baku, tetapi juga pada seberapa besar masyarakat terbiasa mengonsumsi produk berbasis non-gandum.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Ekonomi
Danantara Borong Saham Burs...
Ekonomi
BI Tangkap Sinyal Ekspansi ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.