Keraton Kasepuhan, Simbol Kemegahan Cirebon di Masa Lalu
📅 Sabtu, 15 Feb 2025, 06:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Taman-taman hijau dan pepohonan yang mengelilingi kawasan keraton menambahkan suasana asri yang memikat. Bangunan keraton dilengkapi dengan pendopo dan singgasana raja, yang menjadi ciri khas dari arsitektur keraton.
Secara keseluruhan, bangunan Keraton Kasepuhan mencerminkan perpaduan gaya arsitektur dari budaya Hindu dan Islam. Terlihat pula pengaruh dari budaya Tiongkok dan Belanda yang masih memengaruhi desain bangunan tersebut.
Untuk memasuki Keraton Kasepuhan pengunjung akan melewati gerbang. Keraton ini memiliki dua buah pintu gerbang, pintu gerbang utamanya terletak di sebelah utara dan pintu gerbang kedua berada di selatan kompleks.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit artinya jembatan baik. Sedangkan di sebelah selatan disebut Lawang Sanga artinya pintu sembilan. Setelah melewati Kreteg Pakungwati akan sampai di bagian depan keraton, di bagian ini terdapat dua bangunan yaitu Pancaratna dan Pancaniti.
Bangunan Pancaratna berada di kiri depan kompleks arah barat berdenah persegi panjang dengan ukuran 8 × 8 m. Lantai tegel, konstruksi atap ditunjang empat soko guru di atas lantai yang lebih tinggi dan 12 tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah.
Atap dari bahan genteng, pada puncaknya terdapat mamolo. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa yang diterima oleh demang atau wedana. Secara keseluruhan memiliki pagar berupa terali besi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan banunan Pancaniti berarti jalan atasan, merupakan pendopo sebelah timur yang merupakan tempat para perwira keraton melatih para prajurit ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun dan sebagai tempat pengadilan.
Bangunan yang berukuran 8 × 8 m dengan lantai tegel ini terbuka tanpa dinding. Tiang-tiang yang berjumlah 16 buah memiliki atap yang terbuat dari sirap. Sedangkan di sekelilingnya memiliki pagar berapa terali besi.

Keraton ini memiliki area yang disebut Siti Inggil. Bangunan dengan nama lain lemah duwur dalam bahasa Cirebon sehari-hari ini berada pada posisi tinggi dan tampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit.
Di sebelah utara bernama Gapura Adi dengan ukuran 3,70 × 1,30 × 5 m sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng dengan ukuran 4,50 × 9 m, pada sisi sebelah timurnya gapura terdapat bentuk banteng.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!