Keraton Kasepuhan, Simbol Kemegahan Cirebon di Masa Lalu
📅 Sabtu, 15 Feb 2025, 06:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Koran Jakarta/Fajar AM
Pada awal pembangunannya. Keraton Kasepuhan dibangun oleh Pangeran Emas Zainul Arifin dengan maksud untuk memperluas bangunan pesanggrahan Keraton Pakungwati.
Mengunjungi Cirebon seolah belum lengkap jika tidak mampir di Keraton Kasepuhan. Tempat ini bukan hanya menawarkan sejarah masa lalu kerajaan Cirebon namun juga melihat gaya arsitektur bangunan sarat makna simbolis yang mencerminkan konsep berpikir masyarakat di pesisir utara pulau Jawa ini.

Keraton Kasepuhan berada di Jalan Kasepuhan Nomor 43, Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat. Posisinya hanya kira-kira 1 kilometer dari bibir pantai laut Jawa, tidak heran ketika berkunjung ke sini suhunya terasa cukup panas.
Keraton tersebut didirikan oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati pada tahun 1529 Masehi atau tahun 1451 Saka. Tahtanya diteruskan oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II bergelar Panembahan Pakungwati I pada tahun 1506 yang bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keraton Kasepuhan dulunya bernama ‘Keraton Pakungwati,” sebutan ini berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia seorang putri yang disebut cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya.
Pakungwati wafat pada tahun 1549 dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Namanya diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama keraton yaitu Keraton Pakungwati. Namun nama ini kemudian berganti menjadi Keraton Kasepuhan sedangkan Pakungwati hanya menjadi salah satu bagian dari keratin ini.

Sebaiknya Anda baca juga:
Nama Kasepuhan sendiri muncul setelah pelantikan Sultan Sepuh I yaitu PR Syamsudin Martawijaya pada tahun 1679 seperti yang tercatat dalam Dagh Register gehouden int casteel Batavia 1624-1682. Keraton ini berisi kompleks bangunan bersejarah yaitu Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana (1430 – 1479) merupakan keturunan dari Kerajaan Pajajaran
Saat ini bangunan peninggalan kesultanan Cirebon yang masih terawat dengan baik. Seperti halnya keraton-keraton di Jawa bangunan Keraton Kasepuhan menghadap ke arah utara. Arah ini menjadi model tata letak keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir yang kemudian banyak diikuti menjadi desain pemerintahan kabupaten/kota terutama di Jawa.
Di depan keraton Kasepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Lokasi yang lapang ini juga sebagai titik pusat tata letak kompleks pemerintahan keraton.
Di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan juga pentas perayaan kesultanan lalu juga sebagai tempat rakyat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman dari sultan yang berkuasa.
Di sebelah barat Keraton Kasepuhan terdapat masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah pusat perekonomian yaitu pasar yang sekarang disebut dengan Pasar Kesepuhan yang sangat terkenal dengan teh pocinya.
Ketika memasuki kawasan keraton, pengunjung akan disuguhi keindahan arsitektur dan interior yang khas dari bangunan-bangunan di sana. Struktur bangunan keraton didominasi oleh warna cat putih yang mencolok dan masih mempertahankan dinding batu bata yang khas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!