Relawan Petugas Pembebasan Bersyarat Jepang yang Berjasa Turunkan Angka Kejahatan
📅 Sabtu, 25 Jan 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Philip FONG
Teruko Nakazawa pernah menengahi perkelahian dengan pisau antara seorang mantan napi dan ibu mereka yang semua itu dilakukan sebagai pekerjaan sehari tanpa upah bagi perwira pembebasan bersyarat sukarelawan Jepang.
Perempuan berusia 83 tahun itu, yang bercanda dengan menyebut dirinya seorang "punk" sambil menghisap rokok, telah mengabdikan puluhan tahun untuk mengawasi dan membantu merehabilitasi para penjahat yang dihukum dengan pembebasan bersyarat.
Namun, dia tidak mengambil sepeser pun uang pun atas kerja kerasnya di bawah skema anggaran negara yang sudah berjalan lama tetapi kurang dikenal, yang menurut beberapa orang berkontribusi terhadap tingkat kejahatan yang terkenal rendah di negara itu.
Sekitar 47.000 warga negara sukarelawan yang dikenal dengan sebutan hogoshi, jumlahnya jauh melebihi 1.000 petugas pembebasan bersyarat yang digaji di Jepang.
"Saya tidak pernah ingin diberi ucapan terima kasih atau penghargaan," kata Nakazawa, ketika mengenang saat-saat ketika ia menyelamatkan seorang anak laki-laki yang dikelilingi oleh 30-40 orang jahat. "Saya melakukan apa yang saya lakukan karena saya ingin melakukannya. Anda tidak dapat menahan diri untuk tidak berusaha memadamkan api saat Anda melihatnya, bukan?"
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun program altruistik ini menghadapi masa depan yang tidak pasti, dengan sekitar 80 persen hogoshi kini berusia 60 tahun atau lebih.
Pembunuhan seorang hogoshi oleh seorang narapidana pembebasan bersyarat baru-baru ini juga telah mengguncang kepercayaan terhadap sifat baik para mantan napi yang mendasari sistem tersebut.
Namun bagi salah satu mantan napi asuhan Nakazawa, ia layaknya seperti seorang nenek. "Saya tidak berani berbuat jahat selama dia menjabat," ucap seorang mantan napi yang menolak disebutkan namanya karena ingin menyembunyikan masa lalu kriminalnya. "Saya takut merasa bersalah karena telah mengkhianatinya," imbuh napi pria berusia 34 tahun yang menyatakan bahwa Nakazawa telah banyak membantunya terutama untuk meminta maaf kepada para korbannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seorang hogoshi berusia 60 tahun telah ditikam hingga tewas di Otsu, dekat Kyoto, oleh seorang pria di bawah pengawasan Nakazawa pada bulan Mei lalu. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran bahwa calon hogoshi akan mundur teratur dalam menjalankan tugasnya.
Bangun Hubungan
Seorang hogoshi secara historis menolak usulan untuk dibayar upah tetap. Hal ini karena aktivitas mereka merupakan simbol ketidakegoisan yang berakar pada cinta kasih terhadap kemanusiaan, kata para ahli hukum dalam laporan bulan Oktober.
Meski begitu, Jepang akan menjadi negara yang berbeda tanpa hogoshi, kata Carol Lawson, seorang profesor peradilan pidana komparatif di Universitas Tokyo, yang menyebutkan sangat minimnya kejahatan pascaperang di negara tersebut.
"Toleransi risiko yang tinggi dari sistem ini tidak biasa,” kata Lawson, seraya membeberkan bahwa hogoshi sering mengundang narapidana yang dibebaskan bersyarat ke rumah mereka untuk membangun hubungan yang hangat dan akrab.
Nakazawa mengatakan putrinya dulu khawatir akan keselamatannya dan mendesaknya untuk berhenti. Namun jika masyarakat menjauhi mantan pelaku tindak pidana, mereka hanya akan berkembang biak dan melakukan kejahatan yang lebih kejam, kata Nakazawa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!