Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Relawan Petugas Pembebasan Bersyarat Jepang yang Berjasa Turunkan Angka Kejahatan

📅 Sabtu, 25 Jan 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Relawan Petugas Pembebasan Bersyarat Jepang yang Berjasa Turunkan Angka Kejahatan Doc: AFP/Philip FONG
Ket. Relawan petugas pembebasan bersyarat (hogoshi) Teruko Nakazawa saat berbincang dengan mantan napi bebas bersyarat di sebuah kafe di Tokyo, Jepang, pada pertengahan Desember lalu. Saat ini terdapat sekitar 47 hogoshi di Jepang yang peran mereka amat berjas

Teruko Nakazawa pernah menengahi perkelahian dengan pisau antara seorang mantan napi dan ibu mereka yang semua itu dilakukan sebagai pekerjaan sehari tanpa upah bagi perwira pembebasan bersyarat sukarelawan Jepang.

Perempuan berusia 83 tahun itu, yang bercanda dengan menyebut dirinya seorang "punk" sambil menghisap rokok, telah mengabdikan puluhan tahun untuk mengawasi dan membantu merehabilitasi para penjahat yang dihukum dengan pembebasan bersyarat.

Namun, dia tidak mengambil sepeser pun uang pun atas kerja kerasnya di bawah skema anggaran negara yang sudah berjalan lama tetapi kurang dikenal, yang menurut beberapa orang berkontribusi terhadap tingkat kejahatan yang terkenal rendah di negara itu.

Sekitar 47.000 warga negara sukarelawan yang dikenal dengan sebutan hogoshi, jumlahnya jauh melebihi 1.000 petugas pembebasan bersyarat yang digaji di Jepang.

"Saya tidak pernah ingin diberi ucapan terima kasih atau penghargaan," kata Nakazawa, ketika mengenang saat-saat ketika ia menyelamatkan seorang anak laki-laki yang dikelilingi oleh 30-40 orang jahat. "Saya melakukan apa yang saya lakukan karena saya ingin melakukannya. Anda tidak dapat menahan diri untuk tidak berusaha memadamkan api saat Anda melihatnya, bukan?"

Namun program altruistik ini menghadapi masa depan yang tidak pasti, dengan sekitar 80 persen hogoshi kini berusia 60 tahun atau lebih.

Pembunuhan seorang hogoshi oleh seorang narapidana pembebasan bersyarat baru-baru ini juga telah mengguncang kepercayaan terhadap sifat baik para mantan napi yang mendasari sistem tersebut.

Namun bagi salah satu mantan napi asuhan Nakazawa, ia layaknya seperti seorang nenek. "Saya tidak berani berbuat jahat selama dia menjabat," ucap seorang mantan napi yang menolak disebutkan namanya karena ingin menyembunyikan masa lalu kriminalnya. "Saya takut merasa bersalah karena telah mengkhianatinya," imbuh napi pria berusia 34 tahun yang menyatakan bahwa Nakazawa telah banyak membantunya terutama untuk meminta maaf kepada para korbannya.

Seorang hogoshi berusia 60 tahun telah ditikam hingga tewas di Otsu, dekat Kyoto, oleh seorang pria di bawah pengawasan Nakazawa pada bulan Mei lalu. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran bahwa calon hogoshi akan mundur teratur dalam menjalankan tugasnya.

Bangun Hubungan

Seorang hogoshi secara historis menolak usulan untuk dibayar upah tetap. Hal ini karena aktivitas mereka merupakan simbol ketidakegoisan yang berakar pada cinta kasih terhadap kemanusiaan, kata para ahli hukum dalam laporan bulan Oktober.

Meski begitu, Jepang akan menjadi negara yang berbeda tanpa hogoshi, kata Carol Lawson, seorang profesor peradilan pidana komparatif di Universitas Tokyo, yang menyebutkan sangat minimnya kejahatan pascaperang di negara tersebut.

"Toleransi risiko yang tinggi dari sistem ini tidak biasa,” kata Lawson, seraya membeberkan bahwa hogoshi sering mengundang narapidana yang dibebaskan bersyarat ke rumah mereka untuk membangun hubungan yang hangat dan akrab.

Nakazawa mengatakan putrinya dulu khawatir akan keselamatannya dan mendesaknya untuk berhenti. Namun jika masyarakat menjauhi mantan pelaku tindak pidana, mereka hanya akan berkembang biak dan melakukan kejahatan yang lebih kejam, kata Nakazawa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Kenaikan biaya harga pakan ayam

58 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Kenaikan biaya harga pakan ...

Pameran Indofest 2026

59 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Pameran Indofest 2026

Pendaftaran SMPB di Jateng

1 jam lalu | Wahyu AP

Nasional
Pendaftaran SMPB di Jateng

Potensi komoditas kakao Jembrana

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Potensi komoditas kakao Jem...
Daerah
Anak harimau sumatra di TSI...

Aksi Kamisan ke-908 di Jakarta

2 jam lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Aksi Kamisan ke-908 di Jakarta
Nasional
Sidang vonis Mantan Wamenna...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.