Swasembada Pangan Hentikan Dominasi Kartel. Pemerintah Harus Konsisten
📅 Senin, 13 Jan 2025, 09:38 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA-Swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah mengancam dominasi spekulan beras global. Selama ini mereka diuntungkan karena tingginya impor beras RI. Langkah Presiden Prabowo yang menghentikan impor beras merugikan mereka.
Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa mengatakan, salah satu contohnya ialah penurunan harga beras dunia dengan keputusan pemerintah menghentikan impor beras tahun ini
"Hal ini bisa jadi salah satu indikasi tata niaga, importasi, dan pasar pangan global selama ini dikuasai kartel, spekulan, atau pemburu rente pangan,"ucap Awan dari Yogyakarta, Senin (13/1)
Dijelaskan Awan, disaat kuasa mereka melemah atau hilang maka harga akan kembali ke harga keekonomian.
Fenomena ini paparnya bisa juga dibaca sebagai strategi kartel untuk tetap menguasai pasar dan mengekalkan ketergantungan impor pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara fundamental swasembada pangan mengancam dominasi dan eksistensi mereka,"tegasnya. "Kuncinya pemerintah harus konsisten dan didukung oleh seluruh elemen.
Diketahui, tekad menyetop importasi beras yang digagas Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dilaporkan turut mempengaruhi penurunan harga beras di pasar internasional. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi dalam Rapat Koordinasi Bidang Pangan Provinsi Banten yang dihelat di Pendopo Gubernur, Serang, Banten pada Jumat (10/1)
"Izin Pak Menko Pangan, ternyata kebijakan kita turut memicu harga beras di pasar dunia turun. Begitu Pak Menko sampaikan bahwa kita tidak mengimpor 4 produk pangan, salah satunya beras. Beras dari beberapa negara turun mulai dari USD 640 per metrik ton, turun lagi ke USD 590 sampai USD 490. Hari ini sudah dekat-dekat di USD 400-an. Jadi luar biasa kebijakan kita hari ini," beber Arief.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan data perkembangan harga beras putih 5 persen (Free on Board) dari beberapa negara yang dihimpun tim NFA, terlihat rerata harga beras dari Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Myanmar pada Januari 2024 berada di rentang harga USD 622 sampai 655 per metrik ton.
Kemudian per 19 Desember 2024 yang merupakan momen setelah pengumuman stop impor beras Indonesia, juga mulai menurun di rentang USD 455 sampai 514 per metrik ton. Di bulan ini, India sudah mulai membuka keran ekspornya. Tren harga beras putih pun semakin menurun pada 8 Januari 2025 menjadi rentang USD 430 sampai 490 per metrik ton.
Sementara menukil The FAO All Rice Price Index (FARPI) menyebutkan Indeks di Desember 2024 menurun 1,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 119,2 poin. Namun dilihat secara setahun penuh, rerata indeks FARPI di 2024 masih lebih tinggi 0,8 persen dibandingkan tahun 2023.
"Harga beras di dunia turun, namun harga petani kita disesuaikan lebih baik lagi, menjelang panen raya tahun ini. Sekali lagi terima kasih kebijakan kepada petani Indonesia," sebut Arief.
Kesejahteraan Petani
Kesejahteraan petani padi dapat tercermin dari perkembangan indeks Nilai Tukar Petani Pangan (NTPP). NTPP di Februari 2024 yakni 120,30 menjadi paling tinggi dibandingkan NTPP bulan-bulan sebelumnya selama 5 tahun terakhir. NTPP di Desember 2024 pun cukup baik dengan masih menorehkan lebih dari 100 dengan angka 108,90.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!