Pemimpin Pemberontak: Suriah Enggan Konflik dengan Israel
📅 Senin, 16 Des 2024, 02:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Xavier GALIANA
DAMASKUS — Pemimpin pemberontak yang merebut kekuasaan di Damaskus pada Sabtu (14/12) mengecam serangan Israel ke Suriah selatan pada pekan ini, tetapi mengatakan bahwa negaranya sudah terlalu lelah untuk menghadapi konflik baru.
Pernyataan itu dilontarkan saat pasukan Israel akhir pekan lalu memasuki zona penyangga yang dijaga PBB yang memisahkan Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan dalam sebuah tindakan yang menurut PBB melanggar perjanjian gencatan senjata tahun 1974.
“Israel jelas telah melewati batas penarikan pasukan di Suriah, yang mengancam eskalasi baru yang tidak dapat dibenarkan di kawasan tersebut,” kata pemimpin kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), Abu Mohammed al-Jolani alias Ahmed al-Sharaa.
Namun, Jolani menambahkan dalam pernyataan di saluran Telegram pemberontak bahwa kelelahan umum di Suriah terjadi setelah bertahun-tahun perang dan konflik tidak memungkinkan negaranya untuk memasuki konflik baru."
Israel, yang telah menduduki sebagian besar dataran tinggi strategis itu sejak 1974, mengatakan pihaknya bertindak untuk membela diri dalam menghadapi ketidakpastian politik di tetangganya di timur laut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak penggulingan Presiden Bashar al-Assad oleh pasukan pimpinan HTS pada pekan lalu, Israel juga telah melakukan ratusan serangan udara terhadap aset militer Suriah, menurut pemantau perang. Menteri Pertahanan Katz mengatakan bahwa serangan udara Israel bertujuan untuk menghancurkan kemampuan strategis yang bisa mengancam negaranya.
Terkait serangan Israel ini, pemimpin Hizbullah berharap penguasa baru Suriah tidak mengakui Israel. “Penguasa baru Suriah tidak boleh menjalin hubungan dengan negara tetangga Israel,” ucap pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Sabtu.
Dalam pidatonya pada Sabtu, Qassem menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata tidak berarti Hizbullah diharuskan meletakkan senjatanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hizbullah adalah satu-satunya kelompok bersenjata yang menolak menyerahkan senjatanya setelah perang saudara Lebanon tahun 1975-1990, dan bersumpah untuk terus memerangi Israel.
Kemasi Peralatan
Sementara itu berdasarkan analisis citra satelit yang dirilis oleh Maxar mengungkapkan bahwa Russia tampaknya telah mengemasi peralatan militernya yang berada di pangkalannya di Suriah.
Laporan bahwa pasukan Russia menarik diri dari Suriah muncul setelah Wakil Menteri Luar Negeri Russia mengatakan bahwa Moskwa telah menjalin hubungan dengan HTS.
Citra satelit yang diambil pada Jumat (13/12) memperlihatkan apa yang tampak seperti setidaknya dua Antonov AN-124, salah satu pesawat kargo terbesar di dunia, dengan kerucut hidung terbuka di Pangkalan Udara Hmeimim di provinsi pesisir Latakia, Suriah.
"Dua pesawat angkut berat An-124 berada di lapangan terbang tersebut dimana keduanya dengan kerucut hidung terangkat terlihat bersiap untuk memuat peralatan/kargo," kata Maxar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!