Perguruan Tinggi Harus Siapkan Talenta untuk Hadapi Perkembangan AI
📅 Sabtu, 07 Des 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA /Hafidz Mubarak A
Presiden RI, Prabowo Subianto, telah melantik kabinet untuk menjalankan roda pemerintahan sampai 2029. Dalam kabinet Merah Putih, salah satu perhatian menarik salah satunya yaitu kementerian yang mengurusi pendidikan. Prabowo memutuskan untuk memecah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjadi tiga kementerian, salah satunya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dengan pemecahan kementerian diharapkan penyelenggaraan pendidikan tinggi serta riset dan teknologi bisa lebih fokus. Persoalan sektor tersebut bukan persoalan sepele. Semakin tinggi jenjang pendidikan, akses pendidikan semakin sedikit. Selain itu, program riset dan teknologi juga masih butuh dorongan.
Sejauh ini, juga muncul beberapa isu mulai dari kebebasan mimbar akademik, lulusan perguruan tinggi, beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan banyaknya mahasiswa terjebak judi online. Untuk mengetahui mengetahui pengelolaan pendidikan ke depannya, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Ma'rup, mewawancarai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof Dr Ir Satryo Soemantri Brodjonegoro, dalam beberapa kesempatan. Berikut petikan wawancaranya.
Bisa diceritakan apa saja pesan dari Presiden RI Prabowo Subianto seusai Anda dilantik?
Pak Presiden mengatakan pokoknya para menteri setelah dilantik sudah mulai kerja, tidak ada lagi belajar dulu. Langsung mulai. Untuk itu di bidang saya akan melaksanakan yang telah digariskan oleh menteri sebelumnya. Tidak ada perubahan, sementara tidak ada stagnasi. Proses jalan terus supaya kontinuitas terjamin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pendidikan tidak boleh terganggu oleh adanya perubahan yang menyebabkan adanya stagnasi atau kebingungan di antara pelaku pendidikan baik itu anak-anak maupun pendidiknya. Kita akan terus jalankan.
Perbaikan sambil jalan terus karena pendidikan itu proses yang berjalan. Tidak bisa kita mengadakan perubahan tiba-tiba dengan konsep baru. Itu akan menimbulkan suatu setback yang tidak bisa kita tangani. Kami akan terus laksanakan, kita perbaiki terus ke depan.
Menurut Anda, apa saja tantangan di sektor pendidikan tinggi, sains, dan teknologi?
Sebaiknya Anda baca juga:
Di bidang saya mungkin yang saya sekarang paling khawatir adalah bahwa kita di pendidikan tinggi kita nggak tahu nanti pekerjaan apa yang masih ada tahun 2030 karena sudah berkembangnya AI (artificial intelligence) atau kecerdasan buatan yang demikian besar di mana semua pekerjaan sudah diganti oleh mesin learning. Kita harus mempersiapkan diri bagaimana pembelajaran untuk masa depan yang tidak pasti dan tidak menentu. Bagaimana kita bisa mengajarkan anak-anak kita sesuatu yang kita nggak tahu masa depan seperti apa.
Untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti tidak menentu diperlukan suatu metode pembelajaran yang baru. We will transform our educational methodology. Gak bisa lagi memorizing, tapi harus membuat anak-anak kita di semua ini itu punya critical thinking otherwise.
Tantangan lain adalah pekerjaan lulusan perguruan tinggi yang relatif masih sangat rendah. Masih terdapat lulusan perguruan tinggi yang bekerja pada bidang keahlian rendah, serta keterserapan di pasar kerja belum optimal akibat kurangnya kualitas serta taut suai pembelajaran di perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Ini bisa terjadi bukan hanya karena tidak relevannya pendidikan tinggi, namun juga karena di satu pihak kita melihat memang lapangan pekerjaan Indonesia itu relatif sangat minim untuk lulusan perguruan tinggi kita.
Untuk pengembangan talenta sains dan teknologi kondisinya seperti apa?
Terkait pengembangan talenta, masih minimnya perhatian terhadap pengembangan talenta sains dan teknologi. Terbatasnya dukungan terhadap pengembangan karier, jaringan, dan kemajuan profesional penghambat individu-individu berbakat untuk mengejar karier di bidang sains dan teknologi. Ini betul-betul dibutuhkan karena Indonesia Emas 2045 membutuhkan talenta-talenta yang mempunyai daya saing global, yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen.
Selain itu, ada faktor kurangnya perhatian terhadap pengembangan sains dan teknologi. Kita menuju Indonesia Emas 2045, diharapkan PDB kita naik signifikan menjadi negara yang nomor 4 atau 5 besar di dunia, dengan tingkat ekonomi yang pertumbuhannya juga cukup tinggi. Itu hanya mungkin tercapai jika memang SDM dibekali dengan kemampuan dalam bidang sains dan teknologi. Penumbuhan dan penguatan budaya ilmiah, scientific culture dalam penelitian dan pengembangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!