Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tiongkok Temukan Padi Abadi, Tanam Sekali Panen 8 Kali

📅 Senin, 25 Nov 2024, 01:00 WIB | Oleh:
Tiongkok Temukan Padi Abadi, Tanam Sekali Panen 8 Kali Doc: Foto Istimewa
Ket. Sawah padi abadi di Tiongkok.

Menanam padi abadi menghemat 58 persen biaya tenaga kerja dan 49 persen biaya input lainnya pada setiap siklus pertumbuhan kembali.

KUNMING – Setelah bekerja selama lebih dari dua dekade, belum lama ini para peneliti di Universitas Yunnan, di Kunming, Tiongkok, mengumumkan bahwa mereka telah menciptakan varietas padi abadi baru yang disebut PR23. 

Dalam temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability pada akhir tahun 2022 ini, para pembuatnya mengatakan padi abadi ini tidak harus ditanam lagi setiap musim. Sebaliknya, tanaman ini tumbuh dari tahun ke tahun dari akarnya yang sudah lama tumbuh di dalam tanah, seperti halnya rumput liar," ungkapnya seperti dikutip dari situs Indian Administrative Service (IAS) Toppers

PR23 dibuat dengan cara menyilangkan padi semusim biasa Oryza sativa dengan varietas padi liar menahun dari Afrika.Varietas PR23 dapat menghasilkan delapan kali panen berturut-turut dalam empat tahun (karena tanaman dengan akar yang lebih kuat tumbuh kembali dengan kuat setelah setiap panen). Hasilnya 6,8 ton per hektare, sebanding dengan padi irigasi biasa.

"Ini berarti, tanaman tersebut membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja sehingga mengurangi biaya bagi petani, sambil menghasilkan panen yang sama dengan tanaman standar," katanya.

Padi PR23 telah dibudidayalan oleh 44.752 petani kecil pada lahan seluas 15.333 hektare di Tiongkok selatan pada tahun 2021. Kini, padi ini berkembang di seluruh Asia Tenggara dan Afrika.

Menanam padi ini jauh lebih murah karena membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja, benih, dan bahan kimia. "Menghemat 58 persen biaya tenaga kerja dan 49 persen biaya input lainnya, pada setiap siklus pertumbuhan kembali," katanya. 

Mengubah Pertanian

Menurut mereka, tanah mengakumulasi hampir satu ton karbon organik (per hektare per tahun) seiring dengan peningkatan ketersediaan air bagi tanaman. Hal ini dapat mengubah pertanian dengan meningkatkan mata pencaharian, meningkatkan kualitas tanah dan dengan menginspirasi penelitian pada biji-bijian lainnya.

"Versi padi ini merupakan gambaran awal dari tanaman tahunan masa depan yang akan mengubah lanskap pertanian, melestarikan tanah yang rentan, dan memperkaya ekosistem alami," ujar para ilmuwan. 

Mereplikasi keberhasilan serupa pada tanaman pangan lain, kini para peneliti tengah berupaya melihat apakah keberhasilan serupa dapat diterapkan pada tanaman pangan utama lain seperti gandum dan jagung.

Sebelumnya, ahli genetika tanaman di University of Illinois, Erik Sacks, yang berkolaborasi dengan para ilmuwan Tiongkok dan ikut menulis studi baru, mengatakan ini adalah perubahan dalam cara berpikir tentang pertanian.

"Ini benar-benar masalah besar. Ini adalah perubahan dalam cara kita berpikir tentang pertanian," kata Sacks seperti dikutip lamanWSKG.

Beberapa ilmuwan, termasuk Sacks, berharap varietas padi baru menjadi awal dari tanaman tahunan masa depan yang akan mengubah lanskap pertanian, melestarikan tanah yang rentan, dan memperkaya ekosistem alami.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Menlu Marco Rubio Tegaskan ...
Nasional
Pemerintah Perlu Fokus Perc...

UMKM Didorong Tembus Rantai Global

1.5 jam yang lalu | Lukman

Nasional
UMKM Didorong Tembus Rantai...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.