Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Manajemen Air yang Salah Akan Memperburuk Perubahan Iklim

📅 Sabtu, 19 Okt 2024, 00:03 WIB | Oleh:
Manajemen Air yang Salah Akan Memperburuk Perubahan Iklim Doc: ISTIMEWA
Ket. Presiden Tharman mengatakan krisis air global harus diselesaikan dengan cara multilateral.

SINGAPURA - Presiden Singapura, Tharman Shanmugaratnam, pada hari Kamis (17/10), mengatakan banyak negara cenderung menganggap ketahanan air sebagai isu lokal, tetapi sebenarnya isu ini bersifat global dan pemerintah perlu mulai mengatasi krisis air secara multilateral.

Dikutip dari The Straits Times, bukan hanya sungai dan danau, aliran air yang terlihat, yang melintasi batas negara. Karena air yang tersimpan di tanah dan hutan serta dilepaskan kembali ke atmosfer juga mengatur siklus air, penggundulan hutan di satu negara dapat memengaruhi curah hujan dan ketersediaan air di wilayah lain. Sekitar setengah dari curah hujan di daratan berasal dari air hijau ini.

"Di sini, di Asia Tenggara, kami menerima uap air dari Australia dan Selandia Baru, bukan dari tetangga dekat. Mereka sangat jauh, dan pada gilirannya Asia Tenggara dan Asia Selatan mengirimkan uap air melalui atmosfer ke Tiongkok dan Asia Timur Laut," terang Tharman.

Ia menambahkan basalah urus air secara global melalui degradasi lahan basah, penggundulan hutan dan praktik penggunaan lahan lainnya akan dapat memperburuk perubahan iklim.

Tharman berpidato pada peluncuran laporan penting oleh Komisi Global tentang Ekonomi Air, di mana ia merupakan salah satu dari empat orang wakil ketua.

Komisi ini diluncurkan pada tahun 2022 dengan mandat dua tahun untuk membawa perspektif baru tentang ekonomi air dan mengubah cara pengelolaan air.

Produksi Pangan

Dirilis pada 17 Oktober 2024, laporan tersebut meningkatkan peringatan tentang krisis air global dan konsekuensi ekonomi yang lebih besar yang dapat ditimbulkannya. Ditemukan krisis air membahayakan lebih dari separuh produksi pangan dunia pada tahun 2050.

Krisis ini juga akan mengancam produk domestik bruto negara-negara pada pertengahan abad ini, kerugian rata-rata sebesar 8 persen, dengan kerugian sebesar 15 persen di negara-negara berpendapatan rendah.

"Meskipun kelangkaan air tampak sebagai masalah sumber daya lokal, air merupakan barang umum global, dan hal itu memerlukan mekanisme multilateral dan kerja sama antarnegara," kata Tharman, saat berbicara di Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew.

"Saya rasa hal itu dapat dicapai. Dalam hal air, hal itu lebih dapat dicapai dibandingkan dengan beberapa bidang sulit lainnya yang memerlukan koordinasi global. Multilateralisme memang lemah, tetapi belum mati," kata Tharman.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Event Seru di Jakarta Akhir Pekan 13-14 Juni: Serunya Jakarta Fair 2026 hingga JAKIM

Event Seru di Jakarta Akhir Pekan 13-14 Juni: Serunya Jakarta Fair 2026 hingga JAKIM

12 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.