Gigantopithecus Kera Besar yang Hidup di Hutan Bambu Tiongkok
📅 Rabu, 02 Okt 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Universitas Southern Cross/AFP
Spesies kera raksasa yang mirip King Kong pernah berkeliaran di Tiongkok selatan di masa lalu. Mereka hidup di hutan bambu yang memberi sumber makanan bagi mereka.
Pada tahun 1935, ahli paleontologi bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald mengunjungi sebuah toko obat Tiongkok di Hong Kong. Di sana ia menemukan geraham yang luar biasa besar, gigi yang mirip dengan gigi pipih besar yang ada di bagian belakang mulut.
Fosil seperti ini sering ditemukan dalam pengobatan tradisional Tiongkok yang disebut sebagai "tulang naga".Tetapi gigi ini ternyata tidak berasal dari makhluk mitos dan hasil penelitian mengungkapkan bahwa gigi ini berasal dari sejenis kera raksasa.
Ketika mendeskripsikannya sebagai genus baru, von Koenigswald memberi nama sebagaiGigantopithecusyang secara harfiah diterjemahkan sebagai kera raksasa, yang mirip King Kong dalam dunia fiksi. TinggiGigantopithecusdiperkirakan hampir 10 kaki atau 3 meter dan beratnya hampir dua kali lipat berat seekor gorila.
Sejak penemuan pertama ini, lebih dari seribu tiga ratus gigi telah ditemukan dan banyak di antaranya dari pasar obat tradisional Tiongkok. Namun yang lebih menarik adalah penemuan beberapa rahang bawah yang memungkinkan para paleontologi dan primatologi untuk menyimpulkan sedikit tentang seperti apaGigantopithecus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sayangnya petunjuk tentangGigantopithecusberhenti di situ karena sejauh ini belum ada bagian lain dari kerangka atau bahkan tengkorak yang ditemukan. Dari sekian spesies ini yang paling terkenal adalahGigantopithecusblackiyang tampaknya merupakan spesies terbesar yang diketahui.
Gigantopithecusblackiadalah spesies pertama yang telah diberi nama yang diwakili oleh gigi dan rahang bawah. Spesies lainnya adalahGigantopithecusgiganteus, tetapi ini merupakan istilah yang salah karena tampaknya ukurannya hanya setengah dariGigantopithecusblacki.
Namun, spesies ini diketahui dari India dan perbedaan ukurannya mungkin disebabkan oleh adaptasi iklim yang berbeda, meskipun ada bukti yang menunjukkan bahwa spesies ini juga menghuni sebagian wilayah Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
SpesiesGigantopithecusdari India lainnya adalahGigantopithecusbilaspurensisdan spesies ini benar-benar menonjol dari kedua spesies lainnya karena sisa-sisanya diperkirakan berasal dari periode Miosen akhir. Periode ini memperluas rentang waktuGigantopithecusselama jutaan tahun antara periode Miosen dan Pleistosen.
Karena tidak ada kerangka lengkap, rekonstruksiGigantopithecussangat spekulatif, tetapi bagian-bagian yang diketahui mengungkapkan sejumlah informasi yang mengejutkan. RekonstruksiGigantopithecussering kali berupa kera seperti gorila karena gorila adalah kera terbesar yang kita kenal saat ini, tetapi struktur rahang bawahnya sebenarnya jauh lebih mirip dengan orangutan. Inilah sebabnya mengapaGigantopithecusdiklasifikasikan dalam kelompok keraPonginaebersama dengan orangutan. Karena alasan inilah rekonstruksi yang dianggap lebih akurat membuatGigantopithecustampak lebih seperti orangutan.
Spesies ini tampak besar, tetapi saat berdiri dengan kedua punggungnya memberi kesan hewan yang jauh lebih besar.Gigantopithecusakan menopang tubuhnya dengan keempat anggota tubuhnya dalam posisi berkaki empat yang membungkuk, meskipun gerak bipedal kadang-kadang terlihat, terutama sebagai bagian dari pertunjukan atau bergerak dalam jarak pendek.
Dengan asumsi bahwa kerangkaGigantopithecusyang lain menyerupai kerangka kera besar lainnya, maka ia tidak akan memiliki postur rangka atau otot untuk mempertahankan posisi bipedal tanpa usaha tambahan.
Teori yang Cacat
Ada satu teori yang diajukan oleh antropolog Grover Krantz yang dibuat untuk mendukung gagasan bahwaGigantopithecuspada dasarnya bipedal. Krantz mencatat bagaimana rahangGigantopithecusyang diketahui melebar ke arah belakang dan mengusulkan bahwa pelebaran ini terjadi untuk memungkinkan tempat tinggal trakea. LamanPrehistoric Wildlifemenyebut trakea adalah batang tenggorokan' yang menghubungkan paru-paru ke lubang mulut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!