RFA dan TACE, Dua Metode Minimal Invasi untuk Penanganan Kanker Hati
📅 Minggu, 11 Agu 2024, 20:43 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Haryo Brono/Koran Jakarta
JAKARTA - Sebagian besar pasien dengan kanker hati tidak merasakan gejala apapun pada tahap awal. Sebabnya organ hati tidak memiliki jaringan saraf yang apalagi terjadi gangguan dapat menimbulkan rasa sakit.
Kanker hati adalah salah satu penyakit keganasan yang membahayakan organ hati dan perlu diperhatikan secara serius, mengingat hati termasuk organ yang memiliki peran penting bagi tubuh. Fungsi hati antara lain membersihkan darah dari racun atau zat berbahaya, menghasilkan cairan empedu yang membantu pencernaan nutrisi, hingga mengontrol pembekuan darah.
"Fungsi hati yang terganggu oleh penyakit dapat mengganggu metabolisme dan membahayakan kondisi kesehatan seseorang secara umum," ungkap Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah - Pondok Indah Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K), dalam konferensi pers di Jakarta baru-baru ini.
Penting untuk mengenali gejala kanker hati agar dapat mengantisipasinya. Namun, apabila kanker hati sudah terdeteksi maka pemanfaatan teknologi medis terkini seperti Radiofrequency Ablation (RFA) dan Transarterial Chemoembolization (TACE) dapat menjadi pilihan metode non-operatif untuk penanganan kasus kanker hati.
Dr. Rino menerangkan, kanker hati terjadi ketika sel-sel hati mengembangkan perubahan (mutasi) dalam DNA. DNA sel adalah bahan yang memberi instruksi untuk setiap proses kimia dalam tubuh. Mutasi DNA menyebabkan perubahan pada instruksi ini. Salah satu dampaknya adalah sel-sel mulai tumbuh di luar kendali dan akhirnya membentuk tumor (massa sel kanker).
Sebaiknya Anda baca juga:
Terkadang kanker hati disebabkan dan diawali oleh infeksi hepatitis kronis. Namun, kanker hati juga dapat terjadi tanpa penyakit yang mendasarinya dan tidak jelas penyebabnya. Kanker hati sering sulit dideteksi karena hati adalah organ yang 'silent' alias tidak menunjukkan gejala khusus pada tahap awal.
Pasien dapat merasa sehat, meski sebenarnya penyakit ini sedang berkembang di dalam tubuh. Hingga 85 persen pasien tidak merasakan gejala apa pun, sampai penyakit tersebut mencapai tahap yang sangat parah.
Oleh karenanya, sangat penting untuk melakukan deteksi dini, jika memiliki faktor risiko terjadinya penyakit ini. Penting untuk memperhatikan riwayat keluarga dan riwayat pribadi. Seseorang dengan riwayat transfusi darah, memiliki anggota keluarga dengan penyakit hati, atau pernah menggunakan alat-alat yang tidak steril, seperti alat tato atau tindik dapat meningkatkan risiko kanker hati," terangnya."Mengetahui riwayat keluarga dan menghindari faktor risiko ini menjadi langkah penting dalam pencegahan penyakit ini," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kanker hati merupakan keganasan primer hati yang sebagian besar disertai dengan penyakit dasar sirosis hati. Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebab kanker hati adalah peradangan hati kronis yang sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B dan C. Infeksi kronis oleh virus hepatitis dapat menyebabkan peradangan yang berkepanjangan dalam organ hati, yang pada gilirannya dapat mengarah pada kanker hati.
Langkah Pencegahan
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko dan menjaga kesehatan hati, antara lain, menjalani pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi tinggi serat, rendah lemak jenuh, dan hindari konsumsi alkohol dan merokok.
Cara lainnya adalah dengan menghindari faktor risiko. Salah satunya adalah hal-hal yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker hati, seperti konsumsi alkohol yang berlebihan serta infeksi hepatitis B dan hepatitis C.
Beberapa kanker seperti kanker serviks dan kanker leher Rahim dapat dicegah dengan vaksinasi, dan kanker hati termasuk salah satunya. Vaksinasi hepatitis B dapat membantu mencegah infeksi virus hepatitis penyebab kanker hati.
"Memantau kesehatan perlu dilakukan terutama jika memiliki riwayat kanker hati dalam keluarga, penting untuk menjalani pemeriksaan rutin dan deteksi dini," kata dr. Rino.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!