Gen Z Banyak Menganggur karena Kompetensi Tidak Sesuai Pasar Kerja
📅 Jumat, 19 Jul 2024, 13:14 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: istimewa
JAKARTA - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Omas Bulan Samosir, mengatakan, generasi Z banyak menganggur karena kompetensi tidak sesuai pasar kerja. Menurutnya, dinamika pasar tenaga kerja berkembang lebih cepat dibandingkan dengan dinamika kapasitas input tenaga kerja.
"Lembaga pendidikan selayaknya memberi bekal pengetahuan bagi angkatan kerja, namun sayangnya mereka seringkali tertinggal dalam merespons kebutuhan pasar. Kurikulum yang dirancang boleh jadi tidak selalu diperbarui sesuai dengan perkembangan di dunia industri," ujar Omas, dalam keterangannya, di Jakarta, kemarin.
Dia menerangkan, pihak-pihak yang terlibat dapat berkolaborasi dan bersinergi. Menurutnya, etos kerja juga harus dibangun untuk memastikan tenaga kerja siap menghadapi dinamika pasar kerja serta institusi pendidikan perlu terus memperbarui kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan industri.
"Angkatan kerja yang menganggur saat ini, akan menjadi beban apabila terjadi pengangguran dalam skala besar ke depannya. Akibatnya, Indonesia Emas akan berisiko tidak tercapai jika terdapat satu generasi yang menjadi sumbat pencapaian pembangunan," jelasnya.
Perlu Sertifikasi
Sebaiknya Anda baca juga:
Omas menilai, pendidikan formal saja tidak cukup untuk menyesuaikan kompetensi lulusan institusi pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja. Menurutnya, sertifikasi vokasional dan pelatihan tambahan sangat diperlukan untuk melengkapi kompetensi lulusan.
Dia menyebut, pemerintah telah menyadari pentingnya hal ini dengan mengakui sertifikat vokasional sebagai bagian dari human capital yang dimiliki oleh pencari kerja. Menurutnya, sertifikat akan memperluas peluang mendapat pekerjaan.
"Semakin banyak sertifikat yang dimiliki seorang pelamar kerja, semakin baik peluang mereka untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja yang terus berubah," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Omas juga menyoroti perlunya memperluas koneksi langsung antara SMK dengan dunia industri. Dengan demikian, industri dapat terlibat dalam membangun kurikulum SMK secara berkala.
"Dunia pendidikan masih membutuhkan keahlian vokasional melalui sekolah kejuruan dan tetap relevan untuk menghasilkan angkatan kerja yang kompeten dalam industri," terangnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!