Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bantuan Pangan Tidak Bisa Kurangi Kemiskinan

📅 Kamis, 18 Jul 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

"Itu berarti selama ada bansos atau bantuan pangan maka tingkat kemiskinan itu turun, tetapi apabila tidak ada bansos maka kemiskinan itu kembali meningkat," tegas Dwi.

Jika demikian, terang Dwi, maka penurunan kemiskinan kembali kepada kekuatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Sejauh mana APBN kita kuat. Apakah APBN kita mampu menyalurkan bansos/bantuan pangan sepanjang tahun dengan nilai fantastis demi menekan angka kemiskinan tadi," kata Andreas.

Selain sangat bergantung pada anggaran, jika pemerintah terus menggunakan model pendekatan bantuan dalam menekan angka kemiskinan, maka cara tersebut tentu tidak produktif, baik dari sisi anggaran maupun juga dari sisi pemberdayaan masyarakat.

Hal yang perlu dicermati lagi, papar Dwi, adalah jumlah rumah tangga petani itu meningkat dua juta lebih pada periode 2019-2024. Hal itu linear dengan jumlah kesempatan kerja yang hilang di sektor formal.

"Banyak pekerja formal kita yang jadinya tidak bekerja dan jumlahnya sekitar dua juta lebih dan mereka menjadi petani. Ini yang menambah beban di sektor pertanian, sementara di sisi lain jumlah usaha tani itu menurun," paparnya.

Dari data itu bisa dikatakan, pemerintah tidak mampu menciptakan lapangan kerja di sektor industri. Akibatnya, rumah tangga petani yang bertambah inilah yang menurut Dwi banyak menikmati bansos/bantuan yang dibagikan. Padahal jika pemerintah ingin mengurangi beban sektor pertanian maka yang harus dilakukan ialah dengan memperbanyak kesempatan kerja.

"Pemerintah harus memperbanyak pekerja formal atau kelas menengah. Caranya dengan perbanyak investasi. Jangan ada lagi kabar ada industri yang tutup, sebab jika pekerja formal ini kembali menjadi petani maka itu menciptakan pemiskinan baru di sektor pertanian," tegas Dwi.

Dari Yogyakarta, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan bisa dikatakan bahwa penurunan tingkat kemiskinan akibat bansos atau bantuan pangan itu adalah semu. "Iya, bisa dikatakan ini penurunan semu karena kalau ada krisis dan gejolak harga, bisa rentan naik lagi tingkat kemiskinannya," paparnya.

Apalagi, standar pengukuran garis kemiskinannya juga terlalu rendah, semestinya lebih komperehensif. Menurut Awan, soal bantuan pangan/bansos hanya jaring pengaman temporer saja yang dapat meningkatkan konsumsi dan daya beli masyarakat miskin.

Artinya, harus ada kebijakan yang bisa membuat penurunan angka kemiskinan berlangsung lama, karena bansos disalurkan selama APBN kuat saja. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih sistematis dan struktural yang membuat penurunan angka kemiskinan berlangsung lama," tegasnya.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, mengatakan penurunan angka kemiskinan itu mengacu ke data Badan Pusat Statistik pada Juli 2024 yang mencatat bersama program bantuan sosial lainnya, program bantuan pangan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di mana persentase penduduk miskin pada Maret 2024 tercatat sebesar 9,03 persen, turun 0,33 persen poin terhadap Maret 2023, dan menurun 0,54 persen poin terhadap September 2022.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

48 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

58 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.