Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bantuan Pangan Tidak Bisa Kurangi Kemiskinan

📅 Kamis, 18 Jul 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bantuan Pangan Tidak Bisa Kurangi Kemiskinan Doc: ANTARA /Anis Efizudin
Ket. TImbulkan ketergantungan I Sejumlah warga membawa beras dalam karung dan paket sembako saat penyerahan Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) 2024 di Temanggung, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Program bantuan pangan dinilai tidak bisa menurunkan angka kemiskinan dan malah dapat menimbulkan ketergantungan dan problem sosial.

» Program subtitusi impor pertanian sangat membantu mengangkat perekonomian desa yang selama ini jadi basis kemiskinan.

» Standar pengukuran garis kemiskinannya juga terlalu rendah, semestinya lebih komperehensif

JAKARTA - Pernyataan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, yang mengeklaim program bantuan pangan beras 10 kilogram (kg) kepada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia telah berkontribusi dalam menurunkan angka kemiskinan, dinilai kurang tepat.

Menurut Guru Besar Sosiologi Ekonomi dari Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, program bantuan beras hanya bersifat meringankan dalam jangka pendek sehingga terlalu sederhana jika diklaim dapat mengurangi kemiskinan.

"Bantuan semacam itu hanya bersifat sementara dan bermanfaat dalam jangka pendek, tapi untuk jangka panjang tidak akan bisa menyelesaikan secara tuntas kemiskinan, justru melahirkan problem-problem baru yang tidak kalah ruwetnya," kata Bagong.

Bantuan pangan, jelasnya, hanya memperpanjang daya tahan, tapi kalau untuk menurunkan angka kemiskinan masih banyak faktor lain yang harus diperhatikan, seperti tingkat inflasi, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang harus selalu berada di atas 100, besaran upah riil buruh, dan sebagainya. Untuk kelompok menengah ke bawah di perdesaan, yang mereka perlukan adalah kebijakan yang mendasar dan berdimensi kerakyatan.

"Kebijakan dan program penguatan pertanian desa dapat menjadi ruang bagi mereka, tentunya tetap harus dilindungi dari produk impor. Program semacam subtitusi impor pertanian akan sangat membantu mengangkat perekonomian desa yang selama ini menjadi basis kemiskinan," kata Bagong.

Pakar sosilogi yang juga pengamat perdesaan dari Universitas Brawijaya, Malang, Imron Rozuli, pada kesempatan lain mengatakan klaim tersebut terlalu terburu-buru karena kemiskinan yang dialami masyarakat tetap berlangsung.

"Bantuan pangan sejatinya tidak memiliki ekses dalam pengurangan kemiskinan. Logika sederhana itu memang mengurangi biaya pengeluaran kebutuhan pangan bagi warga miskin. Jadi, bantuan beras hanya bicara pemenuhan pokok pangan, sementara kemiskinan yang dialami terus berlangsung. Artinya, klaim itu terbantahkan dengan memahami kondisi yang dialami keluarga miskin atau KPM," kata Imron.

Justru, bantuan malah menimbulkan ketergantungan dan problem sosial yang rentan konflik diametral di masyarakat. Sebab, antara data KPM dan kondisi di lapangan bisa sangat berbeda. Pada kondisi yang miskin ekstrem dan kelompok miskin di atas ekstrem atau rentan tentu perlu dibedakan.

"Jadi, klaim menurunkan angka kemiskinan masih sangat sumir dan tidak berdasar pada realitas yang dialami," tutur Imron.

Kekuatan Anggaran

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengatakan kalau Bapanas mengeklaim penurunan tingkat kemiskinan disumbang oleh penyaluran bantuan pangan/bansos, artinya masyarakat sangat bergantung kepada bansos.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

47 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

57 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.