WHO Desak Perketat Pengawasan dalam Upaya Atasi Flu Burung
📅 Sabtu, 13 Jul 2024, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: AFP/FABRICE COFFRINI
JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) pada hari Kamis (11/7) memperingatkan kemampuannya untuk mengelola risiko virus flu burung H5N1 terhadap manusia terganggu oleh pengawasan yang tidak merata.
Dikutip dari The Straits Times, WHO mengatakan Amerika Serikat, minggu lalu, melaporkan kasus keempat flu burung H5N1 pada manusia setelah terpapar sapi perah yang terinfeksi, sementara Kamboja melaporkan dua kasus pada anak-anak yang melakukan kontak dengan ayam yang sakit atau mati.
"Saat ini, belum ada penularan dari manusia ke manusia yang dilaporkan. Itulah sebabnya WHO terus menilai risiko terhadap masyarakat umum sebagai rendah," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
"Namun, kemampuan kita untuk menilai dan mengelola risiko tersebut terhambat oleh terbatasnya pengawasan terhadap virus influenza pada hewan di seluruh dunia," ungkapnya dalam konferensi pers.
Memahami bagaimana virus ini menyebar dan berubah pada hewan sangat penting untuk mengidentifikasi perubahan apa pun yang dapat meningkatkan risiko wabah pada manusia, atau potensi pandemi.
Sebaiknya Anda baca juga:
WHO mengimbau semua negara untuk meningkatkan pengawasan dan pelaporan influenza pada hewan dan manusia, dan bagi negara-negara untuk berbagi sampel dan urutan genetik.
Pekerja Pertanian
Ia juga mendesak perlindungan yang lebih besar bagi pekerja pertanian yang mungkin terpapar hewan yang terinfeksi, dan untuk penelitian yang lebih besar tentang flu burung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Influenza burung A (H5N1) pertama kali muncul pada tahun 1996. Klade virus 2.3.4.4b, yang pertama kali terdeteksi pada tahun 2020, merupakan penyebab pertumbuhan eksponensial dalam jumlah wabah pada burung, di samping peningkatan jumlah mamalia yang terinfeksi.
Jenis virus ini telah menyebabkan kematian puluhan juta unggas, burung liar, mamalia darat dan laut juga terinfeksi. Kasus-kasus manusia yang tercatat di Eropa dan Amerika Serikat sejak virus itu melonjak sebagian besar bersifat ringan.
H5N1 telah menyebar di antara kawanan sapi perah di Amerika Serikat, dengan kini tercatat empat kasus penyakit yang berpindah dari sapi ke manusia. Kepala bidang kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan H5N1 kini telah terdeteksi di 145 kawanan di 12 negara bagian AS.
"Saya rasa hal ini akan terus berlanjut, mengingat kita telah melihat adanya penyebaran yang meluas, mengingat kita memiliki beberapa sampel terbatas yang dilakukan pada sapi perah, tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di seluruh dunia. Kita benar-benar perlu memahami luasnya sirkulasi pada sapi perah," katanya.
Direktur Kedaruratan WHO, Michael Ryan, mengatakan biasanya lebih mudah memberantas penyakit dari hewan peliharaan, karena diketahui di mana hewan tersebut berada, dan tindakan keamanan hayati dapat diterapkan. "Kesulitannya adalah ketika penyakit itu ada di kawanan hewan liar karena adanya risiko pencampuran," ujarnya.
Selain itu, WHO juga memperingatkan penyakit cacar monyet atau mpox tetap menjadi ancaman kesehatan global, menyuarakan keprihatinan khusus pada merebaknya wabah jenis mpox baru yang lebih mematikan di Republik Demokratik Kongo.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!