Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Orang Tua Perlu Proaktif Mendampingi Anak pada Era Digital

📅 Minggu, 03 Mei 2026, 16:10 WIB | Oleh:
Orang Tua Perlu Proaktif Mendampingi Anak pada Era Digital Doc: ANTARA/Bayu Pratama S
Ket. Pelajar memanfaatkan akses internet publik (JakWiFi) milik Pemprov DKI Jakarta untuk belajar di Taman Puring, Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Psikolog Klinis Anak dan Remaja Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, Psikolog, mengingatkan orang tua perlu proaktif dalam mendampingi anak pada era digital.

Pada era digital saat ini, orang tua disarankan memahami aturan terbaru terkait penggunaan media sosial, terutama yang berkaitan dengan batas usia pengguna dan mendiskusikannya dengan anak.

“Itu perlu pelan-pelan didiskusikan dengan anak kita sesuai dengan usianya, ‘nak sekarang ada peraturan begini, alasannya begini'. Jadi, alasan kenapa itu kemudian dibatasi, itu harus juga dimasukkan dalam diskusi,” kata Gisella, psikolog lulusan Universitas Indonesia, ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu.

Pemerintah telah memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas, yang menurut Gisella membantu orang tua dalam mendampingi anak pada era digital.

Dia juga menilai saat ini memang diperlukan intervensi dari pemerintah untuk menghadapi pengaruh dunia digital.

Meskipun sudah ada aturan, Gisella menilai orang tua tetap harus mengambil peran aktif tentang dunia digital, salah satunya dengan memahami aturan tersebut.

"Orang tua tetap perlu mendukung dengan perannya, pembiasaan yang baik dalam mengakses medsos atau konten internet lainnya,” ujar dia.

Dengan pembiasaan dari orang tua dalam mencontohkan mengakses media sosial, atau internet yang baik, kata Gisella, anak akan memiliki bekal ketika mengakses ruang digital.

Media sosial dan internet memengaruhi perkembangan psikologis anak, terutama fungsi kognitif dan kepekaan emosional.

Dia mencontohkan anak yang banyak terpapar dunia digital, mungkin cara berpikirnya menjadi kurang mendalam, kurang analitis, cenderung ingin hasil instan dan sulit menjalani proses.

"Mungkin dari perilaku sehari-hari, sulit untuk bersabar menunggu,” kata Gisella.​​​​​​​

Dari sisi secara emosi, kata Gisella, anak bisa menjadi cukup fluktuatif dan kesulitan memahami perasaannya sendiri, kurang mendapatkan kesempatan mengasah keterampilan regulasi emosinya.

Bahkan, aktivitas yang cukup intens di media sosial dapat memengaruhi konsep diri anak karena mereka cenderung membandingkan diri dengan orang lain yang, menurut mereka, terlihat baik.

Jika anak tidak mendapat pendampingan saat mengakses ruang digital, Gisella khawatir anak merasa bingung karena tidak memiliki panutan, yang bisa berdampak kepada rasa percaya diri dan bagaimana dia melihat dirinya sendiri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
BKKBN Percepat Penanganan K...
Ekonomi
KKP Jaga Kredibilitas Penge...
Sebanyak 34.000 Bungkus Nasi Dibagikan dalam Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus

Sebanyak 34.000 Bungkus Nasi Dibagikan dalam Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus

25 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.