Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perubahan Iklim Jadi Tantangan Bagi Peternak Lebah di Makedonia Utara

📅 Sabtu, 22 Jun 2024, 02:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Perubahan Iklim Jadi Tantangan Bagi Peternak Lebah di Makedonia Utara Doc: AFP/Robert ATANASOVSK
Ket. Peternak Magda Miloseska dari Makedonia Utara sedang sarang lebah yang terletak di kaki bukit Desa Stence dekat Kota Tetovo pada 3 Juni lalu. Perubahan iklim dan penyakit yang menimpa negara kecil di Balkan ini telah membuat produksi madu terpuruk dalam beberapa tahun terakhir ini.

SETIAP hari Magda Miloseska mengenakan pakaian pelindung berwarna putih dan memasuki wilayah lebah madu di halaman belakang rumah akhir pekan kecilnya di Makedonia Utara. Selama ini ia telah memproduksi madu di sudut negara yang indah ini selama lebih dari 20 tahun. Namun perubahan iklim dan penyakit telah membuat apa yang tadinya merupakan kesenangan sederhana menjadi jauh lebih sulit, kata dia.

Stence adalah desa di lereng bukit di sebelah barat negara itu, dikelilingi oleh pegunungan dan berada pada ketinggian 650 meter (2.130 kaki). Suhu di bulan Juni sudah melebihi 30 derajat Celsius, tiga derajat lebih tinggi dari biasanya, menurut kantor meteorologi negara bagian.

"Dulu, beternak lebah jauh lebih mudah," kata Miloseska, 63 tahun. "Peternakan lebah adalah hal yang menyenangkan. Namun sekarang kita hanya perlu melawan kondisi iklim dan penyakit yang masuk ke dalam peternakan lebah," imbuh dia.

Walau tadinya hanya sekedar hobi bagi sebagian orang, namun kini menjadi sumber pendapatan bagi sebagian lainnya dimana peternakan lebah telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir di seluruh wilayah di negara ini.

Terdapat 6.900 peternak lebah dengan 306.000 sarang lebah yang terdaftar di seluruh negeri pada tahun 2023, menurut Badan Makanan dan Kedokteran Hewan. Namun menurut penelitian Komisi Eropa yang dikeluarkan pada Juli 2023 lalu, 10 persen lebah dan kupu-kupu terancam punah di Eropa akibat sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia.

Miloseska mungkin tidak memiliki datanya, namun pengalaman sehari-harinya memperjelas bahwa ada sesuatu yang salah. "Peternak lebah yang lebih tua mengatakan bahwa di masa lalu mereka bisa mendapatkan 30-50 kilogram (44-66 pon) madu dari satu sarang lebah," ucap Miloseska. "Pada periode ini, dengan kondisi iklim seperti ini, jumlah tersebut menurun secara substansial," imbuh dia.

Saat ini dalam kondisi ideal, ungkap Miloseska, hasil maksimal yang dapat diharapkan adalah sekitar 30 kilogram dalam satu musim dengan produksi rata-rata antara 10 dan 20 kilogram. Kelangkaan relatif tersebut telah mendorong harga madu naik antara 15 dan 20 euro (16-22 dollar AS) dibandingkan dengan 10 euro pada dua atau tiga tahun lalu.

Mendidik dan Beradaptasi

Sememntara itu Vladimir Petroski, yang selama 13 tahun terakhir menghabiskan waktu luangnya merawat 120 sarang lebah, juga mencatat masalah yang sama. Kalau dulu ia mengharapkan panen madu 30-40 kilogram, kata dia, kini mereka harus puas dengan 15 kilogram per musim.

Dan dia setuju bahwa perubahan iklim telah memicu munculnya parasit dan virus yang mengancam lebah liar dan madu. "Peternak lebah perlu mendidik diri mereka sendiri dan beradaptasi sesuai dengan kondisi dan iklim mikro tempat mereka bekerja," tutur dia

Faktanya, para peternak lebah sudah berusaha mencari solusi sendiri. Sebelumnya organisasi sarang lebah mereka terdiri dari asosiasi peternak lebah regional, yang mempromosikan praktik baik dan menyelenggarakan festival madu.

Mereka sepakat bahwa tantangan utamanya adalah musim dingin yang hangat, perubahan suhu yang cepat di musim semi dan periode kemarau panjang yang datang seiring musim panas yang kini berlangsung hingga September dan Oktober.

Kelompok lingkungan hidup telah meminta kementerian dan lembaga pemerintah untuk berkoordinasi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap lebah. Namun sejauh ini, mereka mengatakan sebagian besar peringatan mereka tidak diindahkan.

Kementerian Pertanian juga mempunyai keprihatinan yang sama terhadap pertanian intensif, pestisida, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Meskipun mengakui ancaman perubahan iklim, kementerian itu hanya merekomendasikan pemantauan lebih dekat terhadap perilaku lebah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

59 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.