Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Riset Ungkap Konten ‘Game’ YouTube Kids Abaikan 6 Elemen ‘Digital Storytelling’

📅 Sabtu, 25 Mei 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Sebagai contoh, video milik EVBO menunjukkan desa yang tutup di hari Minggu, yang membuat narator merasa kesal. Emosi kekesalan ini dapat disampaikan melalui narasi yang bisa ditangkap oleh audiens.

2. Pertanyaan dramatis

Video EVBO dan MarMar Land juga tidak memiliki pertanyaan yang mengunci atensi audiens. Kedua video ini hanya mengikuti alur yang ada di game sehingga hanya menempatkan audiens seperti "anak yang melihat temannya asyik bermain game sendiri".

Jika narator menggunakan pertanyaan dramatis seperti milik Lex Play, misalnya "How do I plan out my island? (Bagaimana aku merancang pulauku?), "How do I start terraforming?" (Bagaimana memulai teraformasi atau membuat permukaan planet selain bumi layak dihuni makhluk hidup?), "How do I know where I'm going to put things?" (Bagaimana aku tahu di mana meletakkan sesuatu?), anak-anak akan fokus menonton video untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

3. Peta cerita

Video MarMar Land dan EVBO yang hanya mengalir mengikuti alur game membuat kedua video ini tidak memiliki peta cerita yang jelas. Kedua video ini tidak memiliki pembukaan video ataupun alur spesifik. Model peta cerita seperti ini dapat membuat audiens anak-anak kesulitan mengidentifikasi apa inti pesan yang disampaikan narator melalui videonya.

4. Ekspresi

Video EVBO dan Lex Play juga tidak menunjukkan wajah narator dalam videonya, sehingga elemen ekspresi tidak ada. Padahal, ekspresi ini menjadi elemen yang dapat membantu anak-anak menangkap pesan yang tepat. Misalnya di video milik MarMar Land, anak-anak akan jelas melihat kesesuaian antara narasi bahagia dengan ekspresi bahagia ketika narator berhasil menyelesaikan rintangan.

5. Tempo dan artikulasi

Anak-anak usia 5-7 tahun hanya bisa menangkap 128-130 kata per menit, dan meningkat sampai 135 kata di usia 10 tahun. Sayangnya, video milik MarMar Land mengabaikan ini dengan memiliki 214 kata per menit.

Selain itu, efek audio membuat artikulasi beberapa kata menjadi kurang jelas. EVBO bahkan memiliki tempo 226 kata per menit. Padahal, makin cepat narator bercerita, makin tinggi risiko ketidakjelasan artikulasinya.

6. Narasi sesuai perkembangan moral

Hanya ada satu video yang memberikan elemen ini, yaitu video MarMar Land yang memberi pesan untuk tidak membuang sampah sembarangan terutama di perairan. Padahal, elemen ini cukup penting karena bisa membantu perkembangan moral anak dari konten yang mereka tonton.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Roy Suryo Ajukan Praperadil...

Bunga Tinggi The Fed Bikin Mental Rupiah Keder

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Ekonomi
Bunga Tinggi The Fed Bikin ...

Perluasan Pasar Bisa Melalui Mekanisme Digital

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perluasan Pasar Bisa Melalu...
Megapolitan
Pembangunan SDM, Sekolah-se...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp71.600/...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.