Sempat Dikritik, Ini 5 Alasan Mengapa Cuti Ayah Diperlukan
📅 Selasa, 09 Apr 2024, 13:37 WIB | Oleh: Tim PenulisPerempuan yang melahirkan memiliki kemungkinan hambatan karier yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Banyak perempuan harus mengambil cuti untuk melahirkan, yang kadang berulang kali. Hal ini membuat mereka otomatis tertinggal dalam progres kariernya, meskipun kapasitas mereka sering tidak kalah dibanding kolega lelakinya. Beban pengasuhan pada perempuan juga membuat banyak dari mereka yang terpaksa harus berhenti bekerja.
Terlebih lagi, diskriminasi dan stigma di tempat kerja masih sering dilakukan oleh pemberi kerja kepada perempuan. Hal ini terjadi karena pemberi kerja cenderung menilai kriteria produktivitas berdasarkan jumlah jam kerja, tanpa mempertimbangkan efisiensi, kreativitas, dan pemecahan masalah sebagai kriteria penilaian produktivitas.
Akibatnya, laki-laki yang cenderung tidak memiliki tugas tambahan pengasuhan sehingga dapat bekerja dengan jam yang lebih panjang dan tidak mengalami interupsi, dinilai memiliki produktivitas lebih tinggi. Padahal, fleksibilitas kerja juga bisa dimanfaatkan asalkan outcome dan efisiensi tercapai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh karena itu, pemberian cuti ayah akan membantu menyeimbangkan peluang laki-laki dan perempuan (levelling the playing field) sehingga menciptakan tempat kerja yang lebih ramah terhadap kedua gender.
5. Bentuk realisasi pengarusutamaan gender
Indonesia sudah menerapkan kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) sejak tahun 2000 dengan tujuan meningkatkan pembangunan gender. Hal ini sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sayangnya, implementasinya masih kurang maksimal dan belum terintegrasi dengan jelas pada tataran kebijakan. Dalam skala internasional, ketimpangan gender di Indonesia masih cukup tinggi dan menempati peringkat di bawah mayoritas negara-negara ASEAN.
Cuti ayah merupakan bentuk aplikasi nyata dari pengarusutamaan gender dalam birokrasi pemerintahan. Hal ini dapat menjadi contoh bagaimana kesetaraan gender bisa diwujudkan dalam organisasi-organisasi di Indonesia.
Pada akhirnya, penerapan cuti ayah bagi ASN memang memiliki konsekuensi anggaran. Namun, hal ini bukan berarti kebijakan ini merupakan bentuk pemborosan uang negara. Justru, secara manfaat, kebijakan ini bisa memiliki dampak yang berlipat secara jangka pendek dan jangka panjang, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, dan sosial.
Tentunya diperlukan pemahaman bersama, baik dari sisi pembuat kebijakan, ASN, dan masyarakat umum. Edukasi mengenai apa itu cuti ayah dan tujuannya diperlukan agar implementasi berjalan secara efisien dan efektif. Selain itu, monitoring implementasi kebijakan berbasis sains dan komitmen dari pimpinan dan berbagai pihak, serta dukungan sistem yang memadai juga diperlukan.![]()
Fitri Hariana Oktaviani, Lecturer and Researcher in Gender, Organisation & Communication, Universitas Brawijaya dan Antonia Morita Iswari Saktiawati, Lecturer and Researcher in Medicine, member of ALMI (Akademi Ilmuwan Muda Indonesia), Universitas Gadjah Mada
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!