Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sempat Dikritik, Ini 5 Alasan Mengapa Cuti Ayah Diperlukan

📅 Selasa, 09 Apr 2024, 13:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sempat Dikritik, Ini 5 Alasan Mengapa Cuti Ayah Diperlukan Doc: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Ket. Seorang ayah mengawasi anaknya bermain saat mengikuti pelayanan imunisasi dasar di Puskesmas 1 Denpasar Timur, Bali, Selasa (2/4/2024).

Fitri Hariana Oktaviani, Universitas Brawijaya dan Antonia Morita Iswari Saktiawati, Universitas Gadjah Mada

Dengan segera disahkannya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN), pemberian cuti ayah (paternity leave) menjadi poin perdebatan publik.

Cuti ayah adalah sebuah hak cuti yang diberikan kepada seorang ASN yang istrinya melahirkan atau keguguran. Dalam pembahasan RPP terakhir, durasi cuti ayah yang diusulkan berkisar antara 15 hari, 30 hari, 40 hari, hingga 60 hari.

Sejumlah akademisi dan masyarakat mengkritik usulan kebijakan tersebut karena mengganggapnya sebagai pemborosan anggaran dan bukan hal yang mendesak. Mereka berargumen bahwa pelayanan dan produktivitas ASN akan berkurang dengan adanya cuti ayah.

Padahal, cuti ayah dapat memberikan beragam manfaat, termasuk secara ekonomi. Cuti ayah justru dapat meringankan beban ekonomi, alih-alih menjadi pemborosan negara.

Dari hasil analisis berdasarkan hasil riset dan review terhadap literatur dari ilmu kesehatan, ekonomi perawatan, gender, organisasi, dan kebijakan publik, kami menemukan setidaknya ada lima alasan mengapa cuti ayah diperlukan dan bagaimana kebijakan ini berdampak baik dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

1. Mereduksi beban ekonomi jangka panjang

Pascamelahirkan merupakan masa-masa yang sulit bagi banyak perempuan secara fisik dan mental karena terjadinya perubahan fisiologi dan hormon.

Secara fisik, perempuan yang baru saja melahirkan sangat rentan mengalami kelelahan, perdarahan, nyeri pada perut dan saluran melahirkan, rasa sakit pada payudara akibat pembengkakan dan luka di puting saat awal menyusui, sulit menahan keluarnya air seni, kesulitan buang air besar, dan risiko penyumbatan darah.

Jika dihitung dalam rupiah, perawatan fisik ibu yang baru melahirkan bisa sangat mahal.

Perempuan juga rentan mengalami masalah kesehatan psikologis pascapersalinan. Turunnya hormon progesteron, estrogen, dan kadar dopamine membuat perempuan mudah lelah, perasaan jadi lebih sensitif, mood berubah-ubah, dan rentan mengalami depresi.

Masalah tersebut, apabila tidak ditangani dengan baik, akan menimbulkan biaya tinggi untuk pemulihannya.

Pada periode ini, dukungan dari pasangan sangat krusial untuk membantu perempuan yang baru melahirkan kembali pulih.

Selain itu, biaya perawatan bayi juga mahal, apalagi jika bayi sakit. Perekonomian keluarga dapat terdampak dan beban pada sistem kesehatan juga jadi bertambah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Siswa Bermasalah Tak Layak Menerima Bantuan Biaya Sekolah

12 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Siswa Bermasalah Tak Layak ...

Haree Gini Masih Buang Sampah Sembarangan…Bakal Masuk Bui

17 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Haree Gini Masih Buang Samp...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.