Sempat Dikritik, Ini 5 Alasan Mengapa Cuti Ayah Diperlukan
📅 Selasa, 09 Apr 2024, 13:37 WIB | Oleh: Tim PenulisDalam hal ini, cuti ayah dapat membantu meringankan risiko kesehatan yang berdampak pada beban ekonomi yang lebih tinggi.
Hal ini karena partisipasi ayah dalam perawatan dan pengasuhan dapat menyeimbangkan distribusi pekerjaan perawatan yang selama ini sebagian besar tidak dibayar terlepas dari kontribusinya pada perekonomian.
Selain itu, ibu yang juga bekerja dapat segera kembali ke tempat kerja sehingga dapat berkontribusi pada perekonomian keluarga.
2. Menyokong perkembangan bayi
Sebaiknya Anda baca juga:
Gizi dan nutrisi pada masa awal kehidupan bayi sangat krusial untuk perkembangan otak dan fisik anak di masa depan. Sejumlah riset menunjukkan bahwa anak yang ayahnya berperan dalam pengasuhan memiliki status gizi dan kesehatan mental yang lebih baik dibanding anak yang ayahnya kurang berperan.
Jika ayah diberikan paternal leave, mereka akan bisa lebih memaksimalkan peran pengasuhannya selama masa-masa awal bayi baru dilahirkan sehingga bisa turut berupaya mengoptimalkan perkembangan fisik dan otak bayi.
3. Menormalisasi peran ayah dalam pengasuhan
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara norma sosial dan budaya, cuti ayah akan menjadi salah satu bentuk normalisasi keterlibatan ayah, dalam hal ini laki-laki, dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Di Indonesia, beban pengasuhan dan pendidikan anak sebagian besar masih ditanggung oleh ibu. Ini karena masih kuatnya narasi bahwa peran perempuan adalah sebagai pendamping suami dan pendidik anak. Konsep ini dikenal dengan istilah ibuisme, yang dilanggengkan secara kuat pada masa orde baru.
Konsep ibuisme tampaknya masih terus ada pada masa kini meskipun sudah banyak perempuan yang bekerja di ranah publik. Kritik terhadap konsep ibuisme di sini lebih kepada bagaimana narasi ini seolah menyepelekan peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Padahal, riset membuktikan keterlibatan ayah yang tinggi dalam pengasuhan dan pendidikan anak juga dapat mengurangi potensi terjadinya kekerasan domestik. Hal ini karena anak jadi belajar sejak dini bahwa baik ayah maupun ibu memiliki kapasitas yang sama dalam memberikan kasih sayang dan pengasuhan berkualitas.
Normalisasi keterlibatan ayah dalam pengasuhan juga berpotensi mengurangi konstruksi maskulinitas beracun yang menempatkan laki-laki hanya dalam kapasitasnya sebagai pemberi nafkah dan dianggap tidak memiliki kompetensi emosional.
4. Kesetaraan di tempat kerja
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!