Ayo Perkuat Kolaborasi untuk Meredam Abrasi
📅 Senin, 18 Mar 2024, 00:01 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-BPBD Natuna
Natuna - Gelombang tinggi air laut yang kerap melanda Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, mengikis beberapa wilayah pesisir di daerah itu. Akibatnya, air pasang makin dekat dengan permukiman warga.
Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, sebab gelombang air pasangtinggimembahayakan masyarakat di sekitar pesisir.
Kondisi tersebuttelah dirasakan oleh beberapa warga masyarakat di wilayah Kecamatan Bunguran Timur dan Kecamatan Pulau Panjang.
Pada 2023, misalnya, gelombang pasang tinggi telah menghancurkan saturumah warga di wilayah pesisir Kecamatan Bunguran Timur, tepatnya di Desa Sepempang. Pada tahun sama, puluhan bangunan di Kecamatan Pulau Panjang, tepatnya di Desa Kerdau, rusak akibat dihantam gelombang pasang.
Meski demikian, kedua peristiwa tersebut tidak sampai menyebabkan jatuh korban. Namun aktivitas warga menjadi terganggu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena gelombang pasang tinggi berpotensi destruktif, ancaman iniharus disikapi dengan bijak dan cepat oleh negara agarmasyarakat pesisir tidak kehilangan ruang kehidupan.
Kerusakan lingkungan pada akhirnya juga mengganggu perekonomian masyarakat, bahkan nyawa mereka.
Pergeseran wilayah yang disebabkan oleh abrasi tidak hanya membahayakan masyarakat, namun lebih jauh lagi mengancam kedaulatan negara. Pasalnya, abrasi menyebabkan wilayah daratan menyusut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh karena itu, program meredam abrasi air laut harus cepat dibuat oleh Pemerintah, apalagi Natuna berbatasan langsung dengan beberapa negara, sepertiChina, Vietnam dan Malaysia.
Abrasi merupakan fenomena alam yang sulit dihindari, namun karenamanusia kurang bijak dan hati-hatimengelola lingkungan maka mengakibatkan proses abrasi yang seharusnya terjadi secara alami, menjadi tidakseimbang atau menjadi lebih cepat.
Terumbu karang dan hutan bakau yang berfungsi memecah dan memperlambat pergerakan gelombang, misalnya, dieksploitasi secara berlebihan dan tidak sama sekali tidak mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem.
Banyak terumbu karang rusak akibat penggunaan potas atau racun saat mencari ikan. Adapun luas hutan bakau kian menyusut akibat ditebang untuk membuat materialbangunan dan arang.
Selain itu, pemanfaatan pasir laut sebagai bahan bangunan juga merupakan salah satu aktivitas yang berdampak besar mempercepat penyusutan daratan akibat abrasi yang kian cepat itu.
Padahal kondisi tersebut bakal merugikan masyarakat itu sendiri, sebab ekosistem di wilayah tersebut makin rusak akibat terumbu karang dan mangrove-- sebagai bagian penting dalam pembentuk ekosistem -- hilang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!