Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dampak Perang bagi Lingkungan: Pencemaran, Ranjau, dan Emisi

📅 Kamis, 29 Feb 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dampak Perang bagi Lingkungan: Pencemaran, Ranjau, dan Emisi Doc: The Conversation/EPA/Yahya Arhab
Ket. Kala perang berakhir, senjata kerap dibuang begitu saja ke laut. Sejak PD I sampai dekade 70-an, amunisi kedaluwarsa dan senjata kimia di Inggris dibuang ke laut.

Stacey Pizzino, The University of Queensland; Jo Durham, Queensland University of Technology, dan Michael Waller, The University of Queensland

Ketika konflik bersenjata meletus, kita pertama berfokus pada orang-orang yang terdampak. Namun, penderitaan akibat perang tidak usai ketika pertempuran berakhir.

Perang juga merusak lingkungan. Serangan artileri, roket, dan ranjau darat mencemari lingkungan, membinasakan hutan, dan membuat lahan pertanian tak bisa digunakan lagi.

Satu dari enam orang di seluruh dunia telah terpapar konflik tahun ini, mulai dari perang sipil di Sudan, perang Rusia di Ukraina, hingga perang Israel-Hamas.

Perang muncul kembali. Konflik tengah berada di pucuk tertingginya sejak Perang Dunia Kedua. Angka kematian mencapai rekor terbanyak dalam 28 tahun terakhir.

Saat kita bergulat dengan persoalan korban jiwa, kita juga tak bisa berpaling dari akibat perang lainnya: dampak sunyinya bagi lingkungan.

Apa saja kerusakan lingkungan akibat perang?

Konflik bersenjata meninggalkan jejak panjang kerusakan lingkungan. Semuanya dapat memperburuk kesehatan kita dan spesies lainnya.

Senjata kimia dan polusi dari senjata akan berada di lingkungan kita sebagai warisan racun. Bahan peledak memuntahkan polutan seperti depleted uranium atau uranium terdeplesi ke tanah, sementara bentang lahan dapat hancur akibat pergerakan prajurit dan bangunan yang roboh.

Kerusakan ini dapat bertahan lebih lama dari yang kita kira. Pertempuran Verdun di Perancis dalam Perang Dunia II mengontaminasi lahan pertanian yang subur. Hingga seabad kemudian, tak ada seorang pun yang dapat menghuni Red Zone di Verdun karena ancaman bom yang tak meledak.

Seiring berlanjutnya perang Rusia-Ukraina, pencemaran udara parah, deforestasi, dan degradasi lahan juga semakin parah.

Konflik turut menyebabkan kehilangan habitat dan penurunan biodiversitas. Selama 1946 - 2010, kehidupan liar menurun di negara-negara Afrika akibat konflik bersenjata.

Ranjau darat juga berdampak buruk, karena didesain untuk berada di suatu tempat hingga terinjak. Jauh setelah perang berakhir, ranjau masih bisa membinasakan manusia ataupun hewan. Ranjau juga merusak lahan dan membatasi akses masyarakat atas lahan yang aman, sehingga berujung pada eksploitasi berlebihan di kawasan lainnya.

Ranjau juga muncul karena sapuan banjir. Ini terjadi di Libia, Ukraina, Libanon dan Bosnia Herzegovina.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman
    Preview komentar:
    Bank Panin error hari ini Nomor WhatsApp resmi ...
    Bank Panin error hari ini Nomor WhatsApp resmi ...
  • 'Perang Dagang' AS vs Kanada, PM Carney Umumkan Tarif Balasan untuk Produk-produk Amerika
    Preview komentar:
    Bagaimana cara menghubungi call center Bank Panin Nomor WhatsApp ...
    Bagaimana cara menghubungi call center Bank Panin Nomor WhatsApp ...
  • Prakiraan Cuaca Jakarta Cerah Berawan pada Minggu (23/8), Suhu Capai 26 hingga 31 Derajat Celcius
    Preview komentar:
    Bagaimana solusi jika kartu ATM Bank Panin tertelan Nomor ...
    Bagaimana solusi jika kartu ATM Bank Panin tertelan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Olahraga
De Zerbi Minta Maaf atas Ke...
Megapolitan
Tabrakan Beruntun di Tol Se...
Rona
Belajar Bisnis dari Kisah Y...
NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.