Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dampak Perang bagi Lingkungan: Pencemaran, Ranjau, dan Emisi

📅 Kamis, 29 Feb 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Banyak senjata meledak yang dirancang untuk bertahan dalam periode panas intens yang singkat. Ketika temperatur tinggi bertahan lama, bom yang diam pun dapat meledak. Saat suhu dunia memanas, kita dapat melihat lebih banyak ledakan, bukan hanya dari sisa-sisa bom, tapi dari timbunan amunisi.

Situasi tersebut terjadi di Timur Tengah yang tengah mengalami pemanasan cepat atau fast-heating. Di Irak, enam gudang senjata meledak selama gelombang panas intens pada 2019 - 2019. Di Yordania, gelombang panas dituding menjadi penyebab ledakan fasilitas serupa pada 2020.

Kala perang berakhir, senjata kerap dibuang begitu saja ke laut. Sejak Perang Dunia I sampai dekade 70-an, amunisi kedaluwarsa dan senjata kimia di Inggris dibuang ke laut.

Pembuangan ini tampak seperti solusi gampang, tapi bom-bom tersebut belum hilang. Lebih dari sejuta ton sampah amunisi berserakan di dasar palung laut alami antara Irlandia Utara dan Skotlandia. Amunisi ini terkadang meledak di bawah air, sementara senjata kimia dapat terdampar di pantai.

Selama Perang Dunia II, pertempuran intens juga berlangsung di Kepulauan Solomon. Sampai hari ini, orang-orang meninggal ataupun terluka setiap tahun akibat bom-bom yang tak terlindungi meledak. Para nelayan juga harus berhati-hati dengan bom di dalam air.

Eksploitasi lingkungan seperti pembalakan ilegal ataupun penambangan permata dapat meningkat saat perang. Keuntungannya digunakan untuk membeli senjata untuk mengobarkan lebih banyak pertempuran.

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa, setidaknya 40% perang sipil dan konflik internal selama 1946 - 2006 berhubungan dengan sumber daya alam seperti kayu jati dan emas.

Sumber daya alam kadang kala menjadi sasaran tembak, seperti penembakan membabi buta ke sumur minyak di Kuwait ataupun penghancuran bendungan Kakhovka di Ukraina. Taktik bumi hangus itu menyebabkan kerusakan tak terperi bagi lingkungan.

Bagaimana hubungan perang dengan perubahan iklim?

Perang berkepanjangan di kawasan Darfur di Sudan disebut-sebut sebagai perang perubahan iklim pertama di dunia karena bermula dari kekeringan dan krisis ekologi.

Memang sulit menghubungkan iklim yang berubah dengan konflik bersenjata. Namun, setidaknya perubahan iklim dapat menjadi pemicu tak langsung yang dapat memperparah penyebab konflik bersenjata lainnya seperti sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Sebaliknya, konflik memperburuk kerusakan akibat perubahan iklim karena menghambat kemampuan masyarakat untuk merespon ataupun bertahan dari guncangan iklim.

Perang dan cuaca ekstrem sama-sama dapat memaksa orang-orang meninggalkan rumah. Pada akhir 2022, jumlah pengungsi di negara mereka sendiri mencapai angka tertinggi. Ketika orang-orang dipaksa untuk pindah, efek bagi lingkungan dapat bertambah parah karena munculnya persoalan pencemaran plastik dan sampah lainnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Crysencio Summerville
Megapolitan
BMKG Prakirakan Jakarta Ber...

Gelombang Panas Eropa: Menara Eiffel Ditutup Sementara

43 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gelombang Panas Eropa: Mena...
Luar Negeri
Aksi Jual Saham AI AS Mengg...
Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.