Tiongkok dan Uni Eropa Sepakat Jalin Hubungan Perdagangan yang Seimbang
📅 Jumat, 08 Des 2023, 21:38 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: istimewa
BEIJING - Dalam pertemuan tatap muka pertama selama empat tahun pada Kamis (7/12), Tiongkok dan Uni Eropa (UE) sepakat bahwa hubungan perdagangan mereka harus lebih seimbang, namun tidak memberikan tanda-tanda penyelesaian perbedaan dalam berbagai masalah.
Dikutip dari The Straits Times, menekan Beijing atas defisit perdagangan UE yang besar dengan Tiongkok, para pemimpin UE mengatakan, Eropa tidak akan menoleransi "persaingan tidak sehat" dari Tiongkok, dan Beijing memperingatkan UE bahwa mereka mengharapkan kehati-hatian dari Brussel ketika menerapkan kebijakan perdagangan yang "membatasi".
Tidak ada tanda-tanda UE membuat kemajuan dalam membujuk Tiongkok untuk lebih menggunakan pengaruhnya terhadap Russia untuk mengakhiri perang Ukraina, sumber ketegangan dalam hubungan UE-Tiongkok, dan untuk membantu menghentikan Moskow menghindari sanksi atas perang tersebut.
Setelah delegasi UE bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping dan Perdana Menteri, Li Qiang, Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, mengatakan, Tiongkok dan UE mempunyai kepentingan bersama dalam hubungan yang stabil dan konstruktif berdasarkan penghormatan terhadap tatanan berbasis aturan internasional.
"Kita perlu membuat hubungan perdagangan dan ekonomi kita lebih timbal balik dan seimbang," kata Michel, seraya menambahkan blok tersebut mengharapkan Tiongkok mengambil tindakan yang lebih konkrit untuk meningkatkan akses pasar bagi perusahaan asing.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan Presiden Dewan Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan kedua belah pihak membahas akar penyebab ketidakseimbangan perdagangan mereka, mulai dari kurangnya akses ke pasar Tiongkok dan perlakuan istimewa terhadap perusahaan Tiongkok, hingga kelebihan kapasitas produksi Tiongkok.
"Secara politis, para pemimpin Eropa tidak akan bisa menolerir basis industri kita dirusak oleh persaingan tidak sehat," katanya.
UE mengatakan, defisit perdagangannya yang mencapai hampir 400 miliar euro dengan Tiongkok mencerminkan pembatasan terhadap bisnis UE yang beroperasi di sana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejumlah komisaris UE telah mengunjungi Beijing sejak Tiongkok mencabut pembatasan perbatasan akibat pandemi tahun ini, termasuk para kepala perdagangan dan iklim. Permasalahan utama dalam hubungan ini masih ada, namun kemajuan dalam masalah teknis masih terbatas.
Von der Leyen mengatakan, para pemimpin telah membahas peralatan medis, kosmetik dan indikator geografis untuk produk makanan dalam rangka mengatasi ketidakseimbangan perdagangan.
"Ada kemajuan dalam kesediaan Tiongkok untuk memperjelas pembatasan aliran data lintas batas yang berdampak pada perusahaan-perusahaan UE yang beroperasi di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia," katanya.
Namun, sumber pemerintah mengatakan, Italia memberi tahu Tiongkok secara resmi "dalam beberapa hari terakhir" bahwa mereka meninggalkan program Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) yang diperjuangkan oleh Xi, pukulan terhadap hubungan UE-Tiongkok.
Xi mengatakan Tiongkok dan Eropa tidak boleh memandang satu sama lain sebagai saingan atau "terlibat dalam konfrontasi" karena sistem politik mereka berbeda.
"Tiongkok bersedia menjadikan 27 negara UE sebagai mitra ekonomi dan perdagangan utama serta bekerja sama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan," kata Xi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!