Ketua COP28 Desak Negara-negara untuk Capai Kompromi Iklim
📅 Jumat, 08 Des 2023, 07:15 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSementara itu Aliansi Negara Pulau Kecil, yang mencakup beberapa negara paling rentan terhadap iklim di dunia, menyerukan agar penghasil emisi besar untuk meningkatkan komitmen mereka.
"Jika kita gagal, konsekuensinya akan menjadi bencana besar," kata ketua aliansi tersebut, Cedric Schuster.
Teks terbaru dari draft konsensus COP28 mencakup frasa baru yang menyerukan penghapusan bertahap secara "tertib dan adil". Salah satu orang yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan, kata "tertib" berasal dari Jaber.
Pernyataan tersebut dapat memberikan isyarat mengenai kandidat konsensus karena akan memberikan batas waktu yang berbeda bagi setiap negara untuk mengurangi emisi, tergantung pada tingkat pembangunan dan ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan semakin jelasnya perpecahan, Eropa menyerukan tindakan yang lebih keras.
"Saya ingin COP ini menandai awal dari berakhirnya bahan bakar fosil," kata komisioner iklim Eropa, Wopke Hoekstra pada Rabu.
Utusan iklim Jerman, Jennifer Morgan, mengatakan bahwa setiap pihak harus menjauh dari garis merah mereka (dan) mencari solusi. "Kita perlu menyingsingkan lengan baju kita dan menyelesaikannya," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Utusan iklim AS, John Kerry, mengatakan masih ada "masalah rumit" yang harus diselesaikan, namun ini adalah waktunya bagi orang dewasa untuk berperilaku seperti orang dewasa dan menyelesaikan tugasnya.
Sebuah laporan baru yang dikeluarkan oleh Copernicus Climate Change Service (Layanan Perubahan Iklim Copernicus) Uni Eropa memberikan pengingat yang jelas tentang apa yang dipertaruhkan karena dilaporkan bahwa tahun 2023 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. November menjadi bulan pemecahan rekor keenam berturut-turut.
Hal ini memecahkan rekor panas sebelumnya pada bulan November, mendorong suhu rata-rata global pada tahun 2023 menjadi 1,46 derajat Celcius lebih hangat dibandingkan era pra-industri, kata badan tersebut. SB/AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!