Cara Pemprov DKI Kendalikan Harga Daging dan Telur Ayam
📅 Sabtu, 02 Des 2023, 05:23 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ANTARA/Aditya Pradana Putra
HARGA sejumlah komoditas akhir-akhir ini terus meningkat di pasar-pasar Jakarta. Berbagai upaya terus dilakukan Pemprov Jakarta untuk menekannya. Sebab kenaikan terus-menurus harga-harga akan mempertinggi laju inflasi.
Sebentar lagi Natal dan Tahun Baru, tentu seperti tradisi harga-harga kebutuhan pokok bakal naik. Lalu bagaimana Pemprov DKI mengatasi kondisi tersebut, terutama untuk komoditas daging dan telur ayam yang cukup menonjol kenaikannya.
Pemprov Jakarta menargetkan harga pangan selalu terkendali agar tetap terjangkau warga. Maka sering diadakan operasi pasar untuk menurunkan harga komoditas tersebut. Menurut pedagang di pasar-pasar tradisional, kenaikan harga daging ayam dan telur karena harga dari sentra ternak ayam dan telur sudah naik.
Pasar Ciracas, Jakarta Timur, sebagai salah satu barometer Tim Pengendali Inflasi Daerah DKI Jakarta juga terjadi kenaikan harga. Harga daging ayam dari 45 ribu menjadi 50 ribu atau naik 10 persen, bulan lalu. Penyebab kenaikan harga telur dan daging ayam selain karena faktor musiman, derasnya permintaan akibat hari-hari besar keagamaan, ternyata juga dipengaruhi pakan ternak.
Jagung yang menjadi pakan ternak ayam masih harus didatangkan dari luar negeri. Hal ini harus dicarikan solusi untuk mewujudkan ketahanan pangan. Daging ayam dan telur sendiri menempati posisi teratas terhadap kebutuhan protein masyarakat selain didapat dari ikan serta domba/sapi sebagai pelengkap.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seiring bertambahnya penduduk serta berbagai program perbaikan gizi, konsumsi daging ayam dan telur juga meningkat. Dengan demikian, kebutuhan pakan ternak juga akan naik.Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) menyebut penyebab naiknya harga pangan karena harga jagung yang meninggi.
Kenaikan pakan ternak didorong harga bahan pendukung impor yang tinggi. Kemarau panjang berkontribusi pula terhadap kenaikan harga jagung, bahan pokok pakan ternak.
Perlu Solusi
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan kondisi tersebut, maka naiknya harga jagung harus dicarikan solusinyaguna menopang terwujudnya ketahanan pangan nasional. Apa pun musimnya diharapkan tidak mempengaruhi harga pakan ternak sehingga stabil. Ini mengingat teknologinya sudah mendukung. Soal jagung sebagai pakanharus diselesaikan secara serius agar tidak menimbulkan gejolak di kalangan peternak.
Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau National Food Agency (NFA) menugaskan Bulog untuk mengimpor 500 ribu ton jagung pakan guna mengatasi defisit produksi kuartal IV.Pemerintah mengimpor jagung pakan untuk membantu peternak mengatasi fluktuasi harga.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menjelaskan impor jagung pakan harus dilakukan secara cermat dan terukur untuk menjaga agar harga di tingkat petani tetap baik.
Berdasarkan neraca kumulatif tahunan, komoditas jagung mengalami surplus. Namun di kuartal IV, neraca komoditas jagung defisit.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Jawa Timur masih menjadi provinsi penghasil jagung pakan terbesar. Data 2020 provinsi ini menghasilkan 5,73 ton jagung atau sekitar 21,5 persen dari total produksi jagung nasional.
Dengan demikian, optimalisasi melalui teknologi pertanian sangat penting untuk mendongkrak produksi jagung pakan yang dimulai dari Jawa Timur. Guna mendukung hal tersebut, produsen benih pertanian menyatakan komitmennya untuk melayani petani secara berkelanjutan.
Hal ini diwujudkan dengan melakukan kegiatan pengenalan teknologi dan inovasi pertanian tidak saja Jawa Timur sebagai sentra utama tetapi sampai ke Sumatera. Untuk mencapai sasaran pengenalan teknologi dan inovasi pertanian, perlu pendekatan melalui sekolah lapangan untuk petani.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!