Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sentimen Miring CEO Raksasa Migas Bisa Abaikan Agenda Iklim untuk Negara Berkembang

📅 Sabtu, 25 Nov 2023, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sentimen Miring CEO Raksasa Migas Bisa Abaikan Agenda Iklim untuk Negara Berkembang Doc: THE Intercept/GI/Sascha Schuermann
Ket. Sultan Al Jaber, presiden KTT iklim COP28 dan CEO Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi pada 8 Juni 2023, di Bonn, Jerman.

Ibrahim Ozdemir, Clark University

Pada Desember 2023, delegasi dari seluruh negara akan bertemu di Uni Emirat Arab (UEA) untuk Konferensi Tingkat Tinggi Iklim Global ke-28 atau COP 28.

Perundingan ini penting agar dunia bisa mencapai kesepakatan untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya. Sayangnya, kepercayaan global terhadap COP28 berada di tingkat yang rendah. Salah satunya disebabkan oleh pimpinan tertingginya.

UEA memicu kontroversi pada Januari 2023 saat mengumumkan bahwa Sultan Ahmed al-Jaber, CEO Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) - akan menjadi presiden COP 28. Jabatan ini membuat Jaber memiliki kekuasaan besar atas agenda-agenda rapat.

Amerika Serikat (AS) dan politikus Eropa sempat menuntut pengunduran diri al-Jaber. Mantan Wakil Presiden AS Al Gore sampai menuding bahwa kepentingan bahan bakar fosil telah "merasuki proses di Perserikatan Bangsa Bangsa hingga tingkat yang meresahkan, bahkan menempatkan CEO salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia sebagai presiden COP 28."

Menurut saya, kekhawatiran mengenai peran industri bahan bakar fosil menghambat kebijakan pro-iklim adalah hal yang wajar. Terdapat banyak bukti bahwa perusahaan bahan bakar fosil terbesar mengetahui produk mereka akan menyebabkan perubahan iklim sejak beberapa dekade silam. Mereka lantas sengaja berupaya untuk menyangkal ilmu pengetahuan iklim dan menentang kebijakan iklim.

Kendati demikian, saya meyakini seruan untuk memboikot COP28 dan memblok pilihan suatu kawasan untuk memimpin justru merusak kredibilitas negosiasi PBB dan mengabaikan potensi agenda dalam COP 28.

Saya pernah menjadi penasihat Program Lingkungan PBB (UNEP) dan akademisi bidang etika lingkungan. Kekhawatiran terhadap masalah ini mendorong saya untuk bekerja sama dengan enam rekan dari negara-negara belahan dunia Selatan untuk melakukan analisis komparatif terperinci tentang tujuan dan perilaku lima presidensi COP belakangan.

Kami terkejut saat menemukan bahwa agenda kebijakan yang dipromosikan oleh kepresidenan COP 28 UEA akan bermanfaat besar untuk mempercepat transisi dari bahan bakar fosil. Kami juga menemukan bahwa banyak kritik terhadap kepresidenan UEA tidak berdasar.

Bagaimana al-Jaber dipilih

Pertama, penting bagi kita untuk memahami bagaimana proses pemilihan presiden COP.

Pemilihan tuan rumah COP berlangsung dengan proses PBB yang bergilir secara demokratis di antara enam regional.

Negara-negara di setiap regional berkonsultasi mengenai siapa yang akan mewakili kawasan mereka. Setelah disepakati, perwakilan mereka mengusulkan nama, yang kemudian dinilai dan diselesaikan oleh Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC).

Untuk COP 28, kawasan Asia-Pasifik yang terdiri dari beragam negara berkembang, memilih UEA dan al-Jaber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.