Sentimen Miring CEO Raksasa Migas Bisa Abaikan Agenda Iklim untuk Negara Berkembang
📅 Sabtu, 25 Nov 2023, 12:30 WIB | Oleh: Tim PenulisKekhawatiran energi di negara-negara Selatan
Bagi beberapa negara di kawasan Selatan, tuntutan penghapusan bahan bakar fosil tidak hanya tampak menakutkan, tapi juga mengancam pembangunan ekonomi mereka. Tuntutan ini diserukan banyak kelompok aktivis dan negara-negara peserta COP 28.
Dari puluhan negara penghasil minyak dunia, sekitar separuhnya merupakan negara berkembang berpendapatan menengah dengan perekonomian yang sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dan gas. Studi menunjukkan bahwa penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara cepat dan tidak dipersiapkan dapat menyebabkan kerugian investasi infrastruktur senilai triliunan dolar AS di negara-negara penghasil minyak.
Namun, pada saat yang sama, banyak negara di Dunia Selatan menghadapi dampak perubahan iklim yang tidak proporsional dengan produksi emisi gas rumah kaca mereka. Dampaknya bermacam-macam, mulai dari peristiwa cuaca ekstrem hingga kenaikan permukaan air laut yang dapat mengancam keberadaan masyarakat mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Al-Jaber menyebut penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap "tidak bisa dihindari" dan "penting". Namun, dia mengatakan sistem energi dan negara-negara Selatan belum siap untuk penghentiannya secara cepat-setidaknya hingga kontribusi energi terbarukan meningkat.
COP 28, karena itu, harus berfokus pada adaptasi. Pandangan tersebut, meskipun didukung oleh beberapa negara di Dunia Selatan, telah menuai kritik tajam.
Al-Jaber, Masdar, dan ADNOC
Sebaiknya Anda baca juga:
Beberapa orang menggambarkan kepemimpinan Al-Jaber dalam COP 28 sebagai upaya UEA untuk melakukan "greenwash" atas rencana ekspansi minyak dan gas ADNOC, salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia.
Meskipun saya bersimpati dengan kekhawatiran ini, saya dan rekan-rekan saya menganggapnya terlalu sederhana.
Al-Jaber menghabiskan sebagian besar karirnya di sektor energi terbarukan. Pada 2006, ia mendirikan dan menjalankan perusahaan energi terbarukan pelat merah UEA, Masdar. Di sana, dia mengembangkan Masdar sehingga menjadi operator energi terbarukan terbesar di Afrika.
Al-Jaber baru ditunjuk sebagai CEO ADNOC pada 2016, dalam rangka peluncuran resmi "strategi pascaminyak nasional" UEA. Tahun sebelumnya, Putra Mahkota Mohammed bin Zayed menyampaikan pidato di pertemuan puncak pemerintah UEA. Dia menyatakan bahwa UEA akan merayakan "barel minyak terakhir" pada pertengahan abad ini.
ADNOC banyak dikritik karena berencana menginvestasikan US$150 miliar (Rp2.315 triliun) untuk perluasan kapasitas minyak dan gasnya pada dekade ini. Saya mafhum dengan keprihatinan ini. Untuk tetap berada dalam batas pemanasan global 1,5°C (berdasarkan Perjanjian Paris) dunia mungkin perlu menghentikan investasi bahan bakar fosil baru, seperti yang didesak oleh Badan Energi Internasional. Dunia juga perlu menonaktifkan sekitar 40% dari cadangan bahan bakar fosil yang sudah dikembangkan.
Namun, saat membahas presidensi COP28, saya juga meyakini ambisi ADNOC harus dilihat dalam konteks global. Rencana ekspansi bahan bakar fosil dari AS, Kanada, Rusia, Iran, Cina, dan Brasil jauh lebih besar dibandingkan UEA. Sebagian besar pembiayaan bahan bakar fosil di seluruh dunia juga berasal dari bank-bank di AS, Kanada, dan Jepang. Sejak 2015, bank-bank Eropa telah menggelontorkan dana jumbo sebesar $1,3 triliun (Rp20,06 ribu triliun) untuk bahan bakar fosil, termasuk $130 miliar (Rp2.006 triliun) pada 2022 saja.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!