Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengapa Jepang Memilih Perang?

📅 Senin, 06 Nov 2023, 06:10 WIB | Oleh:

Ungkapan itu diartikan, dalam bahasa Inggris yang sederhana, bahwa Jepang harus mendominasi sekitar satu miliar orang di kawasan Asia dan Pasifik, dan pada akhirnya menguasai dunia. Ini bukanlah ide baru bagi pikiran orang Jepang.

Pidato dan tulisan para negarawan dan super-patriot Jepang di zaman modern mengungkap lusinan peringatan serupa mengenai niat mereka. Namun, pada musim panas 1941, ketika rencana penaklukan mereka secara resmi diterbitkan dalam The Way of the Subjects, yang disebut sebagai "kitab suci" masyarakat Jepang. Namun ketika banyak orang asing masih tidak berpikir serius, enam bulan kemudian mereka melakukannya.

Di Jepang ketika itu angkatan bersenjata hampir sepenuhnya memegang kendali atas pemerintah. Setiap sektor kehidupan nasional seperti industri, perdagangan, pertanian, pendidikan, masyarakat, bahkan agama tunduk pada keinginan mereka.

Jepang tidak selalu merupakan negara diktator militer yang tegas. Dalam jangka waktu singkat setelah Perang Dunia I, terdapat indikasi bahwa negara tersebut sedang dalam proses membentuk pemerintahan yang representatif dan mengikuti jejak negara-negara Barat dalam melaksanakan reformasi sosial dan politik yang sangat diperlukan.

Konstitusi Jepang tahun 1889 memberi kerangka monarki abad kesembilan belas yang meniru Prusia. Kepala negara adalah kaisar, dibantu oleh dewan rahasianya. Ada kabinet, dipimpin oleh perdana menteri, dan parlemen yang terdiri dari House of Peers dan House of Representatives yang dipilih oleh rakyat.

Namun dalam pemerintahan Jepang, kaisar adalah sebuah boneka. Dia tidak memulai kebijakan atau tindakan. Selama berabad-abad kekuasaan kekuasaan berada di tangan segelintir bangsawan, tentara, atau negarawan yang mempunyai kekuatan untuk menggunakannya.

Pembuat sistem ini tidak merencanakan atau menginginkan pemerintahan kerakyatan. Namun dari 1921 hingga 1931, partai-partai politik Jepang memperoleh kekuasaan, dan bagi banyak pengamat tampaknya kabinet dan dewan perwakilan rakyat pada suatu saat nanti akan menjadi unsur pengendali dalam pemerintahan. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata
    Preview komentar:
    Wa Call Center 24jam Bank Nagari Layanan WhatsApp ...
  • Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Kemenpar Siagakan Poltekpar Lombok
    Preview komentar:
    Wa Call Center resmi Bank Nagari Layanan WhatsApp ...
    Wa Call Center resmi Bank Nagari Layanan WhatsApp ...
  • Tim SAR Gabungan Temukan Seorang ABK yang Hilang di Sungai Musi
    Preview komentar:
    Wa Call Center Bank Nagari Layanan WhatsApp call ...
    Wa Call Center Bank Nagari Layanan WhatsApp call ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2

Paus Sampaikan Solidaritas untuk Korban Gempa NTT

43 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Paus Sampaikan Solidaritas ...
Ekonomi
BI: Transaksi QRIS Bebas Bi...
Daerah
Tim SAR Gabungan Temukan Se...
Olahraga
De Zerbi Minta Maaf atas Ke...
NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.