Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Marcus Junius Brutus, antara Pahlawan dan Pengkhianat

📅 Rabu, 01 Nov 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Marcus Junius Brutus, antara Pahlawan dan Pengkhianat Doc: afp/ TIZIANA FABI

Pembunuhan Julius Caesar oleh Brutus dianggap merupakan pengkhianatan besar. Namun di balik pembunuhan itu, Brutus dinilai memiliki niat mulia untuk menyelamatkan Republik Romawi dari kekuasaan tirani.

Novel berjudulJulius Caesarkarya William Shakespeare condong menampilkan karakter Brutus sebagai sang pembunuh ketimbang Caesar. Pengarang kurang menampilkan Caesar yang haus kekuasaan, melainkan teman terpercaya Caesar yang berkhianat.

Kata-kata terakhir Caesar yang terkenal dalam drama itu, diucapkan dengan rasa tidak percaya saat Brutus menusukkan belati terakhir ke diktator Romawi itu hingga tewas.Et tu, Brute?(Kamu juga, Brutus?). Lalu sang raja pun jatuh bersimbah darah.

Siapa Marcus Junius Brutus? Ia hidup antara 85 SM hingga 42 SM. Ia bukan tokoh rekaan Shakespeare, namun pernah ada pada dunia nyata. Ia seorang negarawan Romawi yang terpecah antara kesetiaannya kepada Caesar, pelindung lamanya, dan kepada Republik Romawi.

Menurut Shakespeare, Brutus dilahirkan dalam keluarga bangsawan yang nenek moyangnya termasuk salah satu pembela paling awal Republik Romawi. Sistem pemerintahan ini merupakan sistem perwakilan yang berasal dari tahun 509 SM yang memadukan monarki dan demokrasi.

Pada akhirnya, Brutus menyaksikan tirani Caesar sebagai ancaman terbesar bagi Republik Romawi yang demokratis. Bersama rekan konspiratornya, Gaius Cassius Longinus, Brutus menghasut rencana Senat untuk membunuhnya. Namun akhirnya Brutus membayar harga yang sangat mahal atas pengkhianatannya terhadap Caesar.

Brutus dengan cepat kalah dalam pertarungan untuk mendapatkan opini publik para konspirator. Padahal ia ingin dikenal sebagai "pembebas" karena membebaskan Romawi dari tirani Caesar. Alih-alih mendapatkan gelas pahlawan, ia dicap sebagai pembunuh dan pengkhianat. Ia bahkan kalah dalam pertempuran militer terhadap Mark Antony dan Oktavianus, dua dari sekutu Caesar.

Tapi siapakah Brutus yang sebenarnya dan apa yang mendorong seorang politisi terhormat dan bangsawan berbudi luhur untuk melakukan tindakan rendahan seperti itu? Untuk mendapatkan jawabannya, lamanHow Stuff Workmenghubungi Kathryn Tempest, penulis bukuBrutus: The Noble Conspiratordan pemerhati sejarah Romawi, bahasa Latin, dan sastra di Universitas Roehampton London.

Tempest mengatakan bahwa Brutus adalah keturunan Lucius Junius Brutus, seorang konsul pertama Romawi. Dari pihak keluarga ibunya, Brutus memiliki hubungan keluarga dengan Servilius Ahala, pahlawan Romawi abad kelima yang pernah membunuh seorang calon tiran dengan belati.

"Brutus memiliki banyak keuntungan ketika dia memasuki dunia politik," ungkap Tempest. "Di atas koneksi aristokratnya, dia mewarisi ideologis yang digunakan dengan sangat efektif dalam mengembangkan identitas politiknya sendiri," imbuh dia.

Sangat sedikit tulisan Brutus yang bertahan, tetapi orang-orang sezaman merujuk pada risalahnya pada kebijakan, pada tugas dan pada penderitaan (on virtue, on duty, and on suffering). Ketiganya adalah nilai-nilai filosofis tinggi yang tampaknya telah diwujudkan oleh Brutus.

Dalam drama Shakespeare, bahkan Mark Antony mengakui bahwa Brutus adalah orang Romawi yang paling mulia di antara semuanya. Plutarch, penulis biografi Romawi, menulis bahwa, "Brutus adalah satu-satunya orang yang membunuh Caesar karena didorong oleh kemegahan dan kemuliaan perbuatannya, sementara yang lain bersekongkol melawan orang itu karena mereka membenci dan iri padanya," kata dia.

Tempest mengatakan bahwa berdasarkan sumber-sumber kuno, Julius Caesar telah lama berselingkuh dengan Servilia, ibu dari Brutus. Sejarawan Romawi Suetonius menulis bahwa perempuan itu adalah simpanan favorit Caesar. Bahkan ia pernah menghadiahi mutiara besar senilai enam jutasesterce.

Beberapa sumber kuno bertanya-tanya apakah Brutus sebenarnya adalah produk dari peristiwa terkenal itu, tapi Tempest mengatakan perhitungannya tidak bisa menjelaskan hal itu. Brutus sudah terlalu tua pada saat Servilia dan Caesar bersama. Caesar menaruh minat "kebapakan" pada karier Brutus dan memperhatikannya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Luar Negeri
Selamat Datang di Festival ...
Daerah
Kebakaran Kawah Ijen Sudah ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.