Marcus Junius Brutus, antara Pahlawan dan Pengkhianat
📅 Rabu, 01 Nov 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoPerang Saudara
Pada 49 SM, Caesar menolak menyerahkan pasukannya yang kuat kepada Senat, sehingga memicu Perang Saudara Romawi.
Musuhnya adalah Pompey the Great, yang menurut sumber bertanggung jawab atas kematian ayah Brutus beberapa tahun sebelumnya. Tentu saja masuk akal jika Brutus memihak Caesar, kekasih dan pelindung ibunya, dibandingkan Pompey, yang bahkan Brutus menolak untuk berbicara dengannya, menurut Plutarch.
Pada akhirnya, Brutus membuat pilihan sulit untuk mendukung Pompey, yang tunduk pada otoritas Senat dan melepaskan pasukannya yang kuat, dibandingkan Caesar yang dengan egois berjuang untuk melindungi martabatnya sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sulit untuk menjadikan hal ini sebagai motif perang," kata Tempest.
Brutus bertempur dengan gagah berani demi Pompey dalam Pertempuran Pharsalus yang menentukan. Namun ketika Caesar diperkirakan akan menang, Brutus adalah orang pertama yang membelot. Alih-alih menghukum Brutus karena pengkhianatannya, Caesar menyambutnya dengan tangan terbuka.
Sebagian dari hal itu Caesar dinilai merupakan sifat kebapakan kepada seorang anak, tapi juga karena politik yang cerdas.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Caesar menginginkan seseorang dengan reputasi Brutus di sisinya, karena hal itu memberinya legitimasi," kata Tempest. "Caesar bisa mengatakan bahwa pihaknya membela Republik," lanjut dia. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!