Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perpeloncoan di Kampus Masih Terjadi, Bagaimana Mengakhirinya?

📅 Minggu, 03 Sep 2023, 10:44 WIB | Oleh: Tim Penulis

Melalui program ini, senior berperan sebagai relawan untuk membantu transisi juniornya. Sebelum menjadi mentor, senior dapat diseleksi dan diikutkan pelatihan singkat untuk dapat menjalankan tugas sebaik mungkin.

Program ini telah terbukti sukses di beberapa negara, misalnya di Australia melalui O-Week, di mana senior dilatih sebagai relawan untuk menjawab berbagai pertanyaan dari mahasiswa baru. Pertanyaan tersebut tak hanya seputar kehidupan akademik, namun juga terkait adaptasi di lingkungan baru.

Kampus-kampus di Indonesia pun dapat mengadopsi pola ini. Misalnya dengan menerapkan buddy system di mana seorang senior diberi tanggung jawab untuk membimbing sekelompok juniornya selama satu semester. Selama masa pembimbingan itu, senior dapat ditarget untuk memberi program-program penunjang kehidupan akademik seperti tutorial menulis esai atau membuat Curriculum Vitae (CV) yaitu informasi riwayat hidup seseorang yang ditulis secara lengkap dan kronologis.

Sebagai mentor sebaya, senior wajib memiliki pola pikir bahwa mereka adalah fasilitator bagi proses adaptasi juniornya, bukan sebagai pihak yang harus ditakuti secara tak wajar. Dengan cara inilah, keakraban dan rasa hormat akan muncul secara natural.

3. Memahami dampak negatif perpeloncoan

Meskipun terbukti membawa dampak negatif, tidak sedikit yang masih percaya bahwa perpeloncoan merupakan momen pembentukan mental dan solidaritas. Untuk membongkar pandangan keliru ini, kita perlu memahami fakta-fakta tentang dampak negatif perpeloncoan dari hasil penelitian para ahli.

Kemudian, penting untuk menyebarluaskan kesadaran terkait hal ini. Dengan meningkatnya pemahaman tentang dampak negatif perpeloncoan, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya dan menciptakan lingkungan di mana setiap individu dapat tumbuh dan berkontribusi tanpa takut akan perlakuan yang mengikis kepercayaan diri.

Mengedukasi siswa, pendidik, orang tua, dan masyarakat secara luas mengenai implikasi psikologis dan sosial dari perpeloncoan adalah langkah awal yang penting. Tak kalah pentingnya, pengampu kebijakan juga harus menerapkan aturan yang melarang segala bentuk perpeloncoan dan memberikan mekanisme pengaduan yang aman serta menyediakan konsekuensi bagi pelaku.The Conversation

Ario Bimo Utomo, Assistant Professor in International Relations, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.