Pascapandemi, Sudah Pulihkah Pendidikan Kita dari ‘Learning Loss’?
📅 Jumat, 25 Agu 2023, 12:06 WIB | Oleh: Tim PenulisKeterampilan dasar yang diperoleh sejak dini, seperti literasi dan numerasi, sangat dibutuhkan siswa untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang lebih kompleks. Ketidakmampuan untuk memenuhi keterampilan dasar akan membatasi potensi siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah dan menciptakan inovasi.
Studi Bank Dunia menunjukkan hilangnya hasil belajar siswa selama pandemi berpotensi mengurangi pendapatan generasi saat ini sebesar US$17 triliun atau setara Rp. 259,3 kuadriliun ketika dewasa.
Temuan ini serupa dengan hasil analisis yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), organisasi internasional dari 38 negara yang berkomitmen pada demokrasi dan ekonomi pasar, yang menunjukkan bahwa kehilangan hasil pembelajaran juga berpotensi menurunkan pendapatan negara-negara G20.
Untuk konteks Indonesia, kehilangan hasil belajar anak bahkan berpotensi mengurangi pendapatan negara hingga 24-34%.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, hilangnya akses ke sekolah yang kerap diikuti dengan perkembangan kemampuan belajar yang lebih lambat berpotensi menjerat anak terjebak pada masalah-masalah sosial. Misalnya, studi kami di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menunjukkan bahwa anak-anak yang kehilangan akses belajar berpotensi terjebak pada perkawinan anak.
Apakah kita sudah pulih dari learning loss?
Untuk menjawab pertanyaan ini dan mengisi celah pengetahuan di mana studi-studi sebelumnya hanya fokus pada penurunan hasil pembelajaran yang terjadi tanpa melihat potensi siswa untuk terus berkembang, studi terbaru INOVASI, program kemitraan antara pemerintah Australia dan Indonesia, mencoba mengidentifikasi potensi pemulihan pembelajaran siswa pascapandemi di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami melakukan tes pada 4.100 siswa kelas awal di sekolah mitra INOVASI di 7 kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Kalimantan Utara. Tes tersebut diambil secara berkelanjutan: sebelum pandemi (2020), satu tahun setelah pandemi (2021), dan dua tahun setelah pandemi (2022).
Seperti yang terlihat pada grafik di bawah, meskipun performa siswa masih lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi, temuan baru kami menunjukkan adanya indikasi pemulihan pembelajaran yang setara dengan 0,16 sd untuk literasi dan 0,12 sd untuk numerasi (atau setara dengan 2 bulan pembelajaran).
Sebagai ilustrasi, di akhir semester satu (bulan Desember), siswa kelas 1 diharapkan sudah memahami konsep dasar numerasi yaitu menyebutkan bilangan hingga 99. Namun, studi awal kami menggambarkan bahwa banyak siswa kelas 1 baru memahami konsep bilangan hingga 99 pada akhir semester dua (bulan Mei).
Dengan adanya indikasi pemulihan setara 2 bulan pembelajaran, siswa mampu menguasai konsep tersebut pada akhir Maret. Artinya, meskipun ada keterlambatan dalam capaian pembelajaran, upaya pemulihan telah membantu mengurangi jarak keterlambatan tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun hasil belajar belum bisa pulih sepenuhnya, ada indikasi proses pemulihan pembelajaran. Temuan ini juga sejalan dengan studi serupa yang dilakukan di India yang menunjukkan bahwa ada indikasi pemulihan pembelajaran setelah sekolah dibuka kembali. Dengan kata lain, perkembangan akademis siswa saat ini lebih cepat jika dibandingkan dengan kondisi di awal pandemi.![]()
George Adam Sukoco, Monitoring and Evaluation Specialist, Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dan Senza Arsendy, PhD Student in Sociology, The University of Melbourne
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!